PERAN KOMUNITAS MINANG DALAM PENGUATAN SOLIDARITAS EKONOMI DAN SOSIAL MASYARAKAT MINANGKABAU DI YOGYAKARTA
Ridwan,
2009 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)Dewasa ini keberadaan kelompok-kelompok etnis dirasakan semakin banyak. Selain jumlahnya yang meningkat juga menunjukan adanya pergeseran aktifitas yang sebelumnya lebih sering berhubungan dengan seluk beluk kebudayaan, kelompok-kelompok etnis mulai memasuki wilayah sosial dan ekonomi. Berbagai kelompok etnis mulai mengembangkan kerjasama ekonomi dan sosial sebagai bentuk penguatan solidaritas kesukuan, salah satu contoh adalah pembangunan jaringan usaha dagang atau bisnis berdasarkan kesukuan tertentu. Warga Minangkabau di Yogyakarta merupakan salah satu kelompok etnis yang mulai tertarik membangun aktifitas ekonomi dan dinamika sosial nya sendiri memamfaatkan ikatan dan identitas ke-Minangannya. Beranjak dari penjelasan diatas maka penelitian ini sesungguhnya ingin menjawab sebuah pertanyaan bagaimana peran komunitas-komunitas Minang dalam membangun dan mengelola solidaritas ekonomi dan sosial diantara warga Minang perantauan di Yogyakarta. Sementara itu tujuan penelitian ini ingin mengetahui lebih dalam bagaimana latar belakang komunitas-komunitas Minang di Yogyakarta terutama Ikatan Warga Saningbakar (IWS), Perkumpulan Pedagang Minang Malioboro (PKDP), Ikatan Warga Atar (Iwatar) Yogyakarta bisa menjadi wadah dalam membangun relasi sosial dan relasi ekonomi diantara sesama anggotanya sendiri. Penelitian ini juga bertujuan mendeskripsikan dan mengeksplorasi peran komunitas-komunitas Minang (IWS, PKDP, Iwatar) dalam penguatan ekonomi dan sosial masyarakat Minang di Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara umum IWS, PKDP dan Iwatar berperan membangun solidaritas sosial dan ekonomi bagi masing-masing anggotanya. IWS membangun solidaritas sosial secara insidental mengikuti peristiwa-peristiwa tertentu yang dialami anggotanya, sementara PKDP dan Iwatar lebih mampu menata solidaritas secara programatik dimana terjadi penggalangan solidaritas telebih dahulu melalui berbagai aktifitas yang terencana sehingga pada saat dibutuhkan tinggal menyalurkannya saja. Bentuk-bentuk solidaritas sosial dan ekonomi yang dibangun dan dikembangkan ketiga komunitas diatas dipengaruhi oleh lingkungan sosial tempat masing-masing anggota berdomisili, latar belakang profesi dari anggota, latar belakang kedaerahan di Sumetera Barat, dan hubungan antar anggota semasa didaerah rantau lainnya sebelum menetab di Yogyakarta. Apabila dalam lingkungan tempat mereka tinggal dan menetab terdapat kecendrungan solidaritas sosial dan ekonomi yang kuat dari masyarakat sekitarnya maka dinamika sosial dan ekonomi dalam komunitas akan cair dan solidaritasnya lemah. Dalam situasi ini maka komunitas lebih banyak berperan sebagai wadah untuk sekedar berkumpul sebagaimana yang ditunjukan oleh IWS. Kesamaan profesi anggota dalam perkumpulan PKDP dan Iwatar menjadi faktor pendorong pembangunan kerjasama yang baik diantara anggotanya, hal ini agak berbeda dengan yang terjadi didalam perkumpulan IWS. Sedangkan latar belakang kedaerahan di Sumatera Barat berperan sebagai pengikat identitas dan menjadi pendorong untuk saling berkumpul dan berorganisasi, fenomena ini terjadi bagi ketiga komunitas Minang tersebut. Temuan penelitian ini juga memperlihatkan kendala-kendala yang dihadapi IWS, PKDP, dan Iwatar dalam membangun hubungan positif antar anggotanya sehingga mempengaruhi kemajuan dari komunitas itu sendiri secara umum dan secara khusus tentu saja berpengaruh terhadap perkembangan bidang ekonomi dan sosial masing-masing anggotanya.
Kata Kunci : Sosial-Ekonomi