Friksi Amerika Serikat-Perancis Dalam Dewan Keamanan PBB Menghadapi Krisis Irak 2003
Dinar Darundini Amrita Hati, Ilien Halina
2009 | Skripsi | Ilmu Hubungan InternasionalKrisis Irak 2003 mempunyai nilai yang sangat strategis bagi Amerika maupun Perancis. Apabila Amerika berhasil mendapatkan resolusi penggunaan senjata dari PBB, ini akan semakin menguatkan peran Amerika dalam hegemoninya secara politik dan ekonomi. Sekaligus akan menjadikan Amerika menjadi super power yang tak tertandingi dan mengancam tata dunia yang ada selama ini. Sementara Perancis akan tereleminasi bahkan di kawasan Eropa. Sehingga tidak ada pilihan lain bagi Perancis untuk melakukan segala pencegahan, termasuk lewat pemberian vetonya di DK PBB dan di NATO. Pernyataan sikap Perancis yang dengan tegas mengatakan tidak mendukung aksi agresi militer Amerika ke Irak adalah bentuk keinginan Perancis untuk menghilangkan dominasi Amerika di DK PBB pada khususnya dan dunia internasional. Friksi yang muncul ini merupakan langkah awal Perancis mengurangi dominasi Amerika di DK PBB dan dunia internasional, baik dalam hal politik, militer maupun ekonomi. Lewat momentum Krisis Irak 2003 Perancis ingin memainkan peran yang besar di dunia, di lembaga Internasional, termasuk di PBB. Perancis tidak menginginkan adanya dominasi yang berlebihan dari satu negara seperti yang selama ini terjadi di PBB, dimana Amerika dianggap terlalu mendominasi dan mendikte PBB. Perancis tidak mau didikte secara sepihak oleh Amerika. Perancis menginginkan agar dapat lebih memberikan peran dalam PBB. Selain itu rencana agresi Amerika ke Irak akan mengancam hubungan kerjasama perdagangan Perancis dengan Irak yang selama kekuasaan Saddam Hussein sangat menguntungkan Perancis. Hal ini yang kemudian mengakibatkan Perancis terlibat perbedaan pendapat dengan Amerika dalam kasus Irak ini. 51 Perbedaan pandangan antara Amerika-Perancis tentang Irak hanyalah satu gejala, bukan penyebab, dari semakin mendalamnya perpecahan yang terjadi antara Eropa-Amerika yang memiliki akar lebih mendalam dan kemungkinan akan sulit direkonsiliasikan. Di satu pihak, kemauan Amerika adalah bertindak sendirian tanpa perlu mempertimbangkan aliansinya. Di pihak lain Perancis bersikeras akan adanya kepemimpinan meluas yang inklusif yang mengakui eksistensinya sebagai salah satu pemain kunci, selain Amerika. Biasanya hanya kalangan pimpinan Perancis yang secara terbuka mendesak UE untuk bangkit mengimbangi hegemoni Amerika. Sekarang Jerman sudah mulai, walaupun agak ragu-ragu, berusaha tampil sebagai pemain politik lagi. Kendatipun krisis saat ini tak diragukan telah melemahkan kesatuan Eropa, tetapi dalam jangka panjang tidak mustahil akan berdampak sebaliknya. Friksi dalam DK PBB ini merupakan bagian dari usaha Perancis yang mendapatkan dukungan penuh dari Jerman untuk menolak dan lebih jauh lagi mencegah tujuan Amerika dalam memperkuat hegemoni tunggalnya di dunia. Karena untuk masa yang akan datang, koalisi Perancis-Jerman akan memperkuat peran mereka dalam ikut mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang diambil DK PBB. Perancis sebagai salah satu negara kuat di Uni Eropa, secara intensif berkeinginan memajukan peran Uni Eropa dalam berbagai bidang agar dapat menjadi penyeimbang Amerika dalam tata dunia sekarang ini. Kekuatan hegemoni Amerika diharapkan akan segera berkurang sedikit demi sedikit, yang pada akhirnya akan menyejajarkan Uni Eropa dengan Amerika.
Kata Kunci : Hubungan Internasional-AS-Perancis