Laporkan Masalah

AGROFORESTRI SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

RATI MURTIKA SARI, Krisdyatmiko

2009 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)

Lahan pertanian dari waktu ke waktu kian mengalami penyusutan. Hal ini sangat berpengaruh bagi masyarakat pedesaan yang bermatapencaharian sebagai petani. Minimnya lahan dan tingginya biaya produksi serta mahalnya kebutuhan hidup, sementara ketrampilan yang dimiliki terbatas pada sektor pertanian saja mendorong masyarakat untuk melakukan upaya-upaya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan memanfaatkan Sumber Daya Alam yang tersedia. Salah satunya pemanfaatan hutan sebagai lahan pertanian. Kegiatan ini terjadi terutama di daerah pedesaan yang berdekatan dengan kawasan hutan khususnya hutan negara yaitu dengan melakukan kegiatan tumpangsari antara tanaman pokok kehutanan dengan tanaman pertanian (palawija) atau dalam istilah kehutanan dikenal dengan agroforestri. Penelitian ini dilaksanakan di Dusun Sokoliman II, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul karena daerah tersebut masih berbasis pada sektor pertanian dan agroforestri, serta daerahnya berbatasan dengan hutan negara yang dipergunakan masyarakat untuk agroforestri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Teknik pengambilan data menggunakan pengamatan, dokumen dan wawancara dengan teknik pengambilan informan secara bertujuan (purposive) . Analisa data yang digunakan yakni reduksi data, menarik kesimpulan dan verifikasi data. Untuk memeriksa keabsahan data digunakanlah teknik ketekunan pengamatan, triangulasi, konfirmabilitas dan referensi yang cukup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model kerjasama yang dilakukan antara Dinhutbun dengan masyarakat adalah masyarakat diberi keleluasaan untuk mengolah hutan negara tanpa merusak tanaman pokok (kayu putih), masyarakat juga dilibatkan dalam proses pemungutan daun dan pemeliharaan tanaman pokok. Dalam kerjasama ini tidak ada perjanjian tertulis antara Dinhutbun dengan masyarakat. Selain itu, pengelolaan hutan negara beserta komoditas di dalamnya (kayu putih) oleh Dinhutbun masih masih kurang akuntable, efektif dan efisien dan perlu ditata ulang. Sementara dari sisi masyarakat terjadi jual beli lahan garapan yang dapat menimbulkan persoalan-persoalan di kemudian hari. Secara ekonomis, pada tahun 2007 hutan negara memberikan kontribusi bagi Dinhutbun yaitu Rp 4.569.110.050 dari jasa retribusi usaha minyak kayu putih. Sedangkan bagi masyarakat petani Dusun Sokoliman II memberikan peningkatan pendapatan dari hasil tanaman pertanian berupa jagung, padi, kacang tanah, kedelai dan ketela. Pendapatan lain berasal dari upah menjadi buruh tani namun terbatas pada masyarakat yang mempunyai tenaga atau kaum muda. Pada masyarakat petani yang sudah lanjut usia mengupah buruh menjadi beban biaya produksi. Gotong royong menjadi solusi untuk memperkecil biaya produksi. Hutan negara juga membantu memenuhi kebutuhan makanan ternak. Hutan negara memiliki kontribusi dalam peningkatan pendapatan sebagai salah satu elemen kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi masih sebatas pada segi ekonomi saja dan belum membuka akses petani dalam pengelolaan hutan secara utuh. Masyarakat belum dilibatkan dalam penentuan kebijakan-kebijakan yang dilaksanakan karena kelompok tani hutan yang ada belum bisa menjadi media peningkatan kapasitas individu dari anggotanya serta memperkuat posisi tawar masyarakat terhadap pemerintah.

Kata Kunci : Kesejahteraan masyarakat; Hutan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.