Konstruksi dan Model Pendidikan Inklusif
Winda Tri Listyaningrum,
2009 | Skripsi | SosiologiHakikat pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi realita sosial. Pendidikan harus membekali peserta didik dengan kemampuan bermasyarakat. Sistem pendidikan yang ideal akan mengintegrasikan peserta didik dengan realita, bukannya mengisolasi anak dari masyarakat yang beragam. Sayangnya, kondisi pendidikan di Indonesia masih jauh dari ideologi memanusiakan manusia. Sekolah tidak menjadi tempat pembentukan daya kritis dan kreativitas namun tempat untuk membentuk manusia yang seragam. Akibatnya, peserta didik gagap dalam menghadapi keberagaman di masyarakat. Kondisi ini diperparah dengan minimnya sekolah yang mampu memfasilitasi pendidikan kaum minoritas, khususnya difabel, di dalam pendidikan reguler. Berangkat dari kondisi tersebut muncul gerakan para pemerhati pendidikan untuk menumbuhkan kemampuan anak untuk hidup di lingkungan sosial yang beragam melalui sebuah model pendidikan inklusif. Melalui metode pendidikan yang mencampur siswa difabel dan siswa nondifabel dalam satu ruang sosial, peserta didik dilatih untuk menerima keberagaman sebagai realita. Metode yang digunakan di dalam penelitian adalah studi kasus. Penulis melakukan eksplorasi terhadap fenomena sosial, mengelompokkan data menjadi kategori-kategori tertentu lalu menampilkannya sebagai suatu kesatuan data yang holistik. Penulis menggunakan metode observasi dan wawancara terhadap elemen-elemen sekolah dalam mengumpulkan data utama. Foto, dokumen dan data tertulis lain menjadi data yang melengkapi penelitian ini. Pendidikan inklusif di MAN Maguwoharjo dikonstruksikan melalui konsepsi pendidikan yang menyejajarkan siswa. Sekolah meletakkan siswa difabel dan siswa nondifabel dalam kedudukan yang sama namun tetap memberi kemudahan bagi siswa difabel untuk mengakses pendidikan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Praksis pendidikan inklusif diwujudkan sekolah dalam berbagai instrumen pendidikan yang memiliki peran masing-masing namun saling terkait. Dalam aplikasinya, intsrumen pendidikan berupa kurikulum, metode pembelajaran, ekstrakurikuler, dan evaluasi dilaksanakan secara fleksibel sesuai kemampuan fisik masing-masing siswa. Penulis melihat pendidikan inklusif berdampak positif bagi peningkatan kemampuan hidup siswa di lingkungan plural. Siswa diajarkan untuk menerima dan menghargai setiap elemen masyarakat dalam kedudukan yang sejajar. Melalui pendidikan inklusif siswa dikondisikan untuk memiliki kepekaan dan empati terhadap siswa berkebutuhan khusus, sedangkan siswa berkebutuhan khusus dilatih untuk hidup di tengan masyarakat umum. Namun penulis masih menemukan faktor bias dalam pelaksanaan pendidikan inklusif di MAN Maguwoharjo, misalnya kebijakan penjurusan IPS bagi siswa tunanetra dan fasilitasi GPK (Guru Pembimbing Khusus) yang dituding beberapa pihak sebagai kebijakan yang tidak mendukung usaha pemandirian siswa difabel.
Kata Kunci : Pendidikan