Jaringan Komunikasi Dalam Perusahaan Lembaga Bahasa
Bayu Edmiralda, Rajiyem
2008 | Skripsi | Ilmu KomunikasiDalam penelitian ini, peneliti berusaha mengungkap pola jaringan komunikasi tentang hal- hal yang berhubungan dengan pengajaran di divisi Bahasa Indonesia Realia Language and Culture Center, saat Dyah selaku direktur Realia masih ada di Yogyakarta, dan saat Dyah pindah ke Jakarta untuk mengurusi manajeman Realia cabang Jakarta. Jadi, ada dua jaringan komunikasi dalam penelitian ini, yang dianalisis dengan dua data sosiogram. Kedua jaringan komunikasi ini mempunyai objek penelitian yang sama yaitu kelompok guru divisi Bahasa Indonesia di sekolah bahasa Realia yang berjumlah 17 orang. Berdasar atas sosiogram yang menggambarkan jaringan komunikasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan pengajaran dalam kelompok guru divisi Bahasa Indonesia Realia sebelum direktur pindah ke Jakarta, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: · Ada 2 anggota jaringan komunikasi yang mempunyai posisi sebagai star, yaitu Dyah dan Etik. Dyah adalah direktur Realia. Sebelumnya, Dyah menjadi direktur bidang akademik. Dyah ikut terlibat dalam proses pembuatan kurikulum dan materi pengajaran di Realia. Dyah juga salah satu dari enam orang pendiri Realia. Etik adalah guru senior di Realia yang juga menjabat sebagai koordinator divisi Bahasa Inggris di Realia. Etik ikut terlibat juga dalam proses pembuatan kurikulum serta materi pengajaran di Realia. Etik juga adalah salah satu pendiri Realia. Ini membuktikan bahwa 2 orang dengan kedudukan paling tinggi dan dengan pengalaman paling banyak merupakan star di antara guru-guru Bahasa Indonesia Realia. Ada 6 anggota jaringan komunikasi yang menjadi opinion leader. Opinion leader-opinion leader ini mempunyai indeks hubungan yang berbeda-beda. Para opinion leader tersebut adalah Sitta, Fitri, Kris dan Rakyan yang mempunyai indeks hub ungan yang sama, serta Pupu dan TJ yang juga mempunyai indeks hubungan yang sama. Sitta adalah guru senior Realia, ketua kelas, dan koordinator divisi Bahasa Indonesia. Fitri adalah guru senior di Realia dan juga ketua kelas. Kris adalah guru senior spesialis mengajar bahasa Indonesia untuk murid tingkat atas atau tingkat mahir, dan Kris juga menjabat sebagai koordinator divisi Translating and Interpreting. Rakyan adalah guru bahasa Indonesia spesialis mengajar di kelas atas atau kelas mahir. Pupu dan TJ adalah dua orang dari empat ketua kelas yang ada di divisi Bahasa Indonesia Realia. Ini membuktikan bahwa orang-orang yang mempunyai jabatan atau kedudukan tertentu dalam susunan organisasi guru bahasa Indonesia di Realia juga merupakan opinion leader dalam kelompok guru bahasa Indonesia di Realia · Ada 9 orang guru Realia yang menjadi neglectee, atau pihak yang memilih tetapi tidak dipilih dalam jaringan komunikasi. 9 orang guru ini rata-rata adalah guru baru yang baru mulai mengajar selama 1 sampai 2 tahun. Selain itu, ada 1 orang guru yang menjadi pihak yang memilih tetapi juga dipilih, tetapi indeks hub ungannya tidak sampai 10%, sehingga tidak bisa menjadi opinion leader. Guru tersebut adalah Edi, seorang guru senior di Realia yang mengajar di tingkat atas atau tingkat mahir. Hal ini membuktikan bahwa anggota organisasi yang masih baru serta yang tidak mempunyai kedudukan yang penting tidak menjadi acuan untuk membicarakan segala hal yang berhubungan dengan pengajaran. Ini berarti bahwa komunikasi sejajar untuk membicarakan segala hal yang berhubungan dengan pengajaran di antara para guru ini tidak terjadi, karena berdasarkan sosiogram semua guru mengacu ke atas, ke orang-orang dengan posisi ya ng lebih baik dan atau ke orang-orang dengan pengalaman lebih banyak. · Bentuk jaringan komunikasi ini adalah gabunga n dari struktur Y, stuktur roda, dan struktur semua saluran. Berdasar atas sosiogram yang menggambarkan jaringan komunikasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan pengajaran dalam kelompok guru divisi Bahasa Indonesia Realia sesudah kepindahan direktur ke Jakarta, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: · Ada 1 anggota jaringan komunikasi yang mempunyai posisi sebagai star, yaitu Sitta. Sitta adalah salah satu guru senior di Realia. Sebelumnya, Sitta menjabat sebagai koordinator divisi Bahasa Indonesia di Realia. Sesudah kepindahan direktur, tugas Sitta menjadi lebih banyak karena Sitta juga harus mengemban tugas-tugas yang dikerjakan Dyah sewaktu Dyah masih tinggal di Yogyakarta. Jadi, Sitta bukan hanya koordinator divisi Bahasa Indonesia saja, tetapi Sitta juga menjabat sebagai koordinator Realia Yogyakarta. Ini menunjukkan bahwa Sitta sebagai pihak dengan posisi paling tinggi setelah kepergian direktur merupakan star dalam kelompok guru bahasa Indonesia Realia. · Ada 6 anggota jaringan komunikasi yang menjadi opinion leader. Opinion leader-opinion leader ini mempunyai indeks hubungan yang berbeda-beda. Para opinion leader tersebut adalah Etik, Fitri, Pupu, Kris dan TJ yang mempunyai nilai indeks hubungan yang sama , serta Rakyan. Selain Etik yang berubah posisinya dari star menjadi opinion leader, yang menjadi opinion leader dalam jaringan komunikasi ini masih orang-orang yang sama. Hal yang berubah adalah indeks hubungan mereka, apakah indeks hubungannya naik dibandingkan dengan jaringan komunikasi sebelum direktur pindah ke Jakarta, atau malah turun. Hal ini menunjukkan tidak ada perubahan yang berarti di tingkat opinion leader. Orang-orang yang mempunyai jabatan atau kedudukan tertentu dalam susunan organisasi guru bahasa Indonesia di Realia juga merupakan opinion leader dalam kelompok guru bahasa Indonesia di Realia · Ada 8 orang guru Realia yang menjadi neglectee, atau pihak yang memilih tetapi tidak dipilih dalam jaringan komunikasi. 8 orang guru ini rata-rata adalah guru baru yang baru mulai mengajar selama 1 sampai 2 tahun. Selain itu, ada 2 orang guru yang menjadi pihak yang memilih tetapi juga dipilih, tetapi indeks hunungannya tidak sampai 10%, sehingga tidak bisa menajdi opinion leader. Guru tersebut adalah Edi dan Vera. Edi adalah seorang guru senior di Realia yang mengajar di tingkat atas atau tingkat mahir. Sedangkan Vera adalah guru yang relatif baru tetapi untuk kondisi-kondisi tertentu Vera merangkap jabatan menjadi sekretaris Realia juga. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya guru-guru baru atau guru-guru yang tidak mempunyai jabatan yang spesifik tidak memp unyai “kekuatan’ untuk dijadikan acuan dalam membicarakan segalah hal yang berhubungan dengan pengajaran. Berdasarkan sosiogram, semua guru ini mengacu ke atas, ke orang-orang dengan posisi yang lebih baik dan atau ke orang-orang dengan pengalaman lebih ba nyak untuk membicarakan hal- hal yang berhubungan dengan pengajaran di Realia divisi Bahasa Indonesia. · Bentuk jaringan komunikasi ini adalah gabungan dari strukut Y, stuktur roda, dan struktur semua saluran. Kesimpulan yang Berhubungan dengan Hipotesis Hipotesis 1 menyatakan bahwa ada perubahan pola jaringan komunikasi di divisi Bahasa Indonesia Realia Language and Culture Center sebelum dan sesudah Dyah Prasetyo Hening, Direktur Utama Realia, pindah ke Jakarta untuk mengurusi Realia cabang Jakarta. Hipotesis ini terbukti, karena berdasar sosiogram, ada berbedaan yang signifikan dalam jaringan komunikasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pengajaran dalam kelompok guru divisi Bahasa Indonesia Realia sebelum dan sesudah Dyah selaku direktur Realia pindah ke Jakarta untuk mengurusi Realia cabang Jakarta. Salah satu perubahan yang paling signifikan adalah posisi star yang semula dipegang oleh Dyah dan Etik, sesudah kepindahan Dyah dipegang oleh Sitta. Hipotesis 2 menyatakan bahwa Dyah, selaku direktur utama Realia, adalah star saat beliau masih ada di Jogja. Hipotesis ini terbukti karena berdasarkan sosiogram jaringan komunikasi jaringan komunikasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pengajaran dalam kelompok guru divisi Bahasa Indonesia Realia sebelum direktur pindah ke Jakarta, Dyah menempati posisi star bersama Etik dengan indeks hubungan sebesar 70,6% Hipotesis 3 menyatakan bahwa Sitta, selaku koordinator divisi Bahasa Indonesia, mempunyai kedudukan sebagai opinion leader untuk jaringan komunikasi sebelum Dyah pindah ke Jakarta. Kemudian posisi Sitta berubah menjadi star, menggantikan Dyah, sesudah Dyah pindah ke Jakarta. Hipotesis ini terbukti, karena berdasarkan sosiogram jaringan komunikasi mengenai hal- hal yang berhubungan dengan pengajaran dalam kelompok guru divisi Bahasa Indonesia Realia sesudah direktur pindah ke Jakarta, Sitta menempati posisi star menggantikan Dyah dan Etik dengan indeks hubungan sebesar 87,5% Hipotesis 4 menyatakan bahwa ada perubahan jumlah opinion leader dalam jaringan komunikasi saat Dyah masih ada di Jogja dengan jaringan komunikasi saat Dyah sudah pindah ke Jakarta. Hipotesis ini tidak terbukti, karena jumlah opinion leader di masing-masing jaringan komunikasi sama, yaitu berjumlah 6 orang. Yang berbeda adalah indeks hubungan yang diperoleh masing-masing opinion leader tidak sama antara di jaringan komunikasi sebelum kepergian direktur dan pasca kepergian direktur. Hal ini menyebabkan posisi mereka di sosiogram bisa naik, atau turun. Selain itu, Etik yang sebelumnya menempati posisi star berubah menajdi opinion leader, berkebalikan dengan Sitta yang semula adalah opinion leader berubah menjadi star. Realia adalah sebuah organisasi kecil dimana rangkap jabatan di dalam organisasi tersebut sering terjadi. Fenomena menarik yang terjadi adalah saat Realia mengalami perubahan struktur jabatan secara tiba-tiba, dimana direktur Realia Yogyakarta pindah ke Realia Jakarta. Perubahan struktur tersebut tentu saja tidak hanya berlaku dalam bagan struktur organisasi, tetapi juga dalam komunikasi real yang terjadi di lapangan. Apakah komunikasi yang terjadi di lapangan yang dilakukan oleh para anggota organisasi setelah kepindahan direktur sudah sesuai dengan struktur organisasi yang baru? Penelitian ini penting karena bisa menjawab pertanyaan ini, dimana penelitian dengan metodologi analisis jaringan ini dapat melihat dan membandingkan struktur organisasi dengan pola komunikasi nyata yang terjadi, baik ke atas, ke bawah, maupun horizontal, di antara anggota organisasi. Selain itu, hasil dari penelitian ini juga mampu sebagai bahan acuan dan saran bagi Realia divisi Bahasa Indonesia untuk mempraktekkan pola komunikasi di dalam organisasi yang lebih baik dan lebih efektif. Untuk konteks yang lebih luas, penelitian jenis ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi perusahaan atau organisasi besar, dengan anggota yang mencapai ratusan atau ribuan, dengan struktur organisasi yang lebih kompleks, dalam menentukan apakah struktur organisasinya sudah cukup efektif jika diaplikasikan dalam bentuk pola komunikasi nyata di dalam organisasi tersebut. Akhirnya, hasil dari penelitian jenis ini akan memberikan pertimbangan-pertimbangan seperti apakah organisasi tersebut harus menambahkan divisi baru, atau justru mrnghapus satu atau beberapa divisi supaya komunikasi dalam organisasi bisa berjalan dengan lebih efektif.
Kata Kunci : Komunikasi