Laporkan Masalah

ANAK DAN TELEVISI DALAM PROGRAM KAMPANYE LITERASI MEDIA

KRISNA SULISTIYANI, Wisnu Martha Adiputra

2009 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

Penelitian ini berusaha mengkaji aspek literasi media dan penyusunan program pada Program Gerakan Hari Tanpa Televisi (GHTT) yang dilakukan oleh Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA). Program GHTT merupakan salah satu program yang dimiliki oleh YPMA dalam kerangka Kampanye Kritis! Media Anak (Kidia) yang dijalankan YPMA. Kampanye Kidia merupakan bentuk dari upaya pendidikan literasi media untuk anak-anak yang merupakan tujuan berdirinya yayasan ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penyusunan Program GHTT yang merupakan sebuah bentuk program dari kampanye komunikasi publik, mengetahui strategi pendidikan literasi media melalui pesan dalam materi kampanye Program GHTT dan mengetahui bentuk pendidikan literasi media yang dilakukan oleh YPMA dalam Program GHTT. Latar belakang dari dijalankannya Program GHTT adalah keprihatinan terhadap tayangan televisi yang tidak memihak kepentingan anak. Kondisi ini sangat tidak mendukung mengingat televisi di Indonesia merupakan sarana hiburan utama bagi anak-anak terutama yang tidak memiliki sarana hiburan lain. Tujuan Program GHTT adalah untuk mendesak industri penyiaran agar benarbenar memperhatikan kepentingan masyarakat terutama perlindungan terhadap anak dan remaja. Tujuan selanjutnya adalah menumbuhkan sikap kritis masyarakat terhadap siaran televisi. Konsep dasar dari program ini diadaptasi dari Kampanye Turnoff TV Week yang dijalankan oleh CSTA. Salah satu konsep yang diambil adalah kegiatan alternatif yang diselenggarakan sebagai pengganti menonton televisi serta moment yang tepat untuk menjalankannya. Program GHTT mulai dijalankan sejak 2006 dan diadakan setahun sekali pada Bulan Juli. Ide utama dari Program GHTT adalah mematikan televisi selama sehari penuh pada Hari Tanpa Televisi (HTT). HTT adalah satu Hari Minggu yang berada dalam minggu yang sama dengan Hari Anak Nasional setiap tahunnya. Program GHTT merupakan serangkaian kegiatan yang mengarah pada pelaksaan HTT. Target audiens dari kegiatan ini adalah anak-anak dengan melibatkan orangtua dan guru untuk mempermudah transfer pesan kepada anak-anak. Kegiatan dalam rangkaian program yang ditujukan bagi target audiens adalah Aksi Damai dan Kegiatan Alternatif di HTT. Aksi Damai adalah kegiatan menyebarkan materi kampanye di tempat-tempat publik untuk mempromosikan HTT. Kegiatan Alternatif adalah kegiatan yang dijadikan model untuk kegiatan pengganti menonton televisi. Kegiatan Alternatif diselenggarakan di tempat publik yang memungkinkan anak untuk bebas beraktivitas. Kegiatan dipersiapkan dengan melakukan riset dan rapat persiapan. Riset dilakukan bersamaan dengan rapat yaitu dengan mengevaluasi pelaksanaan Program GHTT di tahun sebelumnya dan memperbaiki kekurangan untuk pelaksanaan yang akan datang. Persiapan yang dilakukan untuk menjalankan Program GHTT adalah pembentukan tim, pembagian tugas, persiapan masing-masing kegiatan, persiapan materi kampanye, pengiriman press release ke media-media dan penyelenggaraan press conference. Sejak 2007, tim yang dibentuk disebut sebagai Koalisi Nasional Hari Tanpa TV. Koalisi ini terdiri dari berbagai institusi yang memiliki visi yang sejalan dalam hal efek media terhadap anak. Tujuan dibentuknya Koalisi ini adalah untuk memperkuat ikatan di antara institusi-institusi dengan latar belakang berbeda dan untuk meningkatkan kredibilitas pelaksana Program GHTT. YPMA merupakan koordinator dari Koalisi ini dan institusi-institusi lain merupakan mitra dari yayasan ini. Pembagian tugas dilakukan dengan mempertimbangkan spesialisasi kerja tiaptiap mitra beserta basis massa yang dimiliki oleh mitra. Di ranah kerja masingmasing, mitra dapat berfungsi dengan optimal dan mendatangkan partisipan yang besar untuk program ini. Publikasi yang dilakukan untuk menyebarluaskan program ini adalah dengan mengirimkan materi press release, mengirimkan undangan peliputan dan mengundang wartawan ke acara press conference. Hubungan dengan media massa juga dibangun dengan membangun link antara media dengan Koalisi atau dengan salah satu tokoh. Selain melalui media massa, program ini juga dipublikasikan melalui internet (e-mail dan mailing list) yang sudah banyak digunakan masyarakat Indonesia. Dukungan media terhadap Program GHTT disebabkan karena kedekatan pelaksanaannya dengan Hari Anak Nasional. Yang lebih utama, ide Program GHTT memiliki relevansi dengan peringatan HAN di masa sekarang. Sebagai suatu bentuk kampanye komunikasi publik, unsur-unsur bauran pemasaran sosial seperti product, price, place, promotion, public, partnership, policy dan purse string dapat digunakan untuk mengoptimalkan fungsi program. Namun, unsur partnership, purse string dan promosi belum dikembangkan dengan maksimal. Penyebabnya adalah pelaksana program belum memanfaatkan bauran pemasaran sosial dalam perencanaan Program GHTT . Perencanaan program, sesuai dengan paparan Simons, dapat dibagi dalam enam tahap, yaitu penetapan tujuan, riset, penyusunan strategi, mobilisasi sumber-sumber daya, promosi dan aktivasi audiens. Dalam hal penetapan tujuan, tujuan kedua dari program ini dapat dijabarkan menjadi pedoman perilaku yang diberikan kepada target audiens. Tujuan pertama program, yaitu untuk mendesak industri penyiaran, baru dapat dicapai bila kekuatan masyarakat dalam melakukan penolakan dapat telah terkumpul dalam jumlah besar. Selama pelaksanaan program, riset dilakukan di awal pelaksanaan program. Tujuannya adalah untuk memperoleh bentuk program yang tepat untuk pelaksanaan di tahun itu. Di akhir program, riset yang dilakukan adalah evaluasi dengan bentuk direct respons tracking yaitu dengan mengamati respons target audiens melalui SMS, e-mail dan komentar-komentar dalam bentuk lain serta dengan menyebarkan kuisioner sebagai post-test bagi masyarakat yang telah mengetahui atau terlibat dengan Program GHTT. Riset dampak tidak mengalami kelanjutan karena dampak dari Program GHTT tidak terasa secara langsung. Pengaruh program akan tetap berlangsung setelah dilaksanakan sehingga riset untuk melihat dampak pelaksanaan Hari H kurang relevan. Yang menjadi frame appropriate dalam penyusunan strategi kampanye adalah dampak televisi terhadap perilaku anak-anak. Diharapkan sudut pandang pesan ini dapat menarik fokus orangtua dan guru sebagai pihak yang peduli terhadap kondisi anak. Mobilisasi sumber daya dilakukan terhadap SDM dan dukungan media. SDM yang dimanfaatkan adalah pelaksana dan tokoh publik yang terlibat. Masing-masing anggota Koalisi dapat berpengaruh terhadap massa yang dimiliki. Tokoh publik membantu menguatkan pesan sehingga dapat lebih berpengaruh terhadap target audiens. Promosi identitas Program GHTT dilakukan kepada publik eksternal, yaitu berupa momentum Peringatan HTT dan perilaku mematikan televisi selama satu hari. Untuk publik internal, promosi identitas dilakukan untuk memperkuat ikatan antara publik internal dengan membentuk Koalisi Nasional Hari Tanpa Televisi pada 2007. Audiens yang diaktifkan adalah orangtua dan guru. Kelompok ini merupakan jembatan atas pesan dari pelaksana kepada anak-anak. Melalui orangtua dan guru, kelangsungan program diharapkan dapat terjaga setelah rangkaian program selesai dijalankan. Pesan kampanye dalam program ini adalah “Matikan TV Selama Sehari” yang merupakan turunan dari pesan Kampanye Kidia yang berbunyi “Gunakan Media Secara Sehat”. Pesan ini disampaikan kepada dua kelompok target audiens (anak dan dewasa) dengan pendekatan yang agak berbeda. Untuk audiens anak, disampaikan bahwa terdapat banyak kegiatan lain yang lebih bermanfaat dan dapat menggantikan kegiatan menonton televisi. Sedangkan untuk audiens dewasa, fokus pesan adalah dampak televisi terhadap anak-anak. Program GHTT merupakan bagian dari Kampanye Kidia yang merupakan bentuk pendidikan literasi media oleh YPMA. Fungsi dari program ini sebagai bagian dari Kampanye Kidia adalah untuk memberikan dasar pendidikan literasi media kepada masyarakat. Program GHTT mendidik masyarakat untuk dapat menggunakan media secara efektif dan bijak. Sebagai suatu bentuk kampanye komunikasi publik, Program GHTT berada pada daur penyadaran dan sekaligus pertumbuhan. Melalui program ini, target audiens diperkenalkan dengan ide dasar program sekaligus dipengaruhi untuk mengadopsi program. Program GHTT bukan merupakan suatu bentuk pendidikan literasi media yang dapat berdiri sendiri. Untuk dapat mengembangkan kemampuan literasi media masyarakat sehingga mampu mencapai tahap yang lebih lanjut dibutuhkan programprogram lain dari Kampanye Kidia.

Kata Kunci : Program Televisi; Anak-anak


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.