ANALISIS PENGARUH PENERIMAAN BESARNYA IMBALAN TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN SOSIAL
DWIANTORO, Anton, Cornelis Lay
2008 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)ABSTRAKSI Pemetik teh merupakan salah satu kelompok marginal yang hidup disekitar perkebunan. Jika dilihat secara historis yang dahulu adalah sebagai ‘buruh’ dalam arti sebenarnya yang tidak lepas dari warisan budaya kolonial. Tetapi sekarang telah mengalami pergesaran makna seiring perkembangan waktu. Maka, meskipun telah berganti definisi ataupun istilah, namun pada dasarnya status mereka sebagai pekerja tidak merubah perspektif para pekerja itu sendiri di perkebunan sebagai ‘buruh’. Bekerja sebagai ‘buruh’ tak membuat mereka memiliki banyak alternatif pilihan dalam mencari pekerjaan lain, karena status sosial dan latar belakang pendidikan. Hal yang sama juga berlaku bagi pemetik teh, dengan standar upah yang minim, bagaimana mereka mampu memenuhi kebutuhannya. Pemetik teh sebagai ‘buruh’ di perkebunan, menarik untuk diketahui seberapa besar pengaruh upah/imbalan yang mereka terima terkait dengan tingkat kesejahteraan sosialnya. Mengingat besarnya populasi pemetik teh dan persebarannya yang cukup luas dan merata, maka dipilihlah teknik penarikan sampel kluster (cluster sampling). Penelitian ini berangkat dari hipotesa bahwa bahwa besarnya penerimaan imbalan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kesejahteraan sosial buruh pemetik teh di PTPN IX, Kebun Jolotigo, Pekalongan. Dalam studi survey yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari upah/imbalan terhadap tingkat kesejahteraan sosial, khususnya bagi para pemetik teh. Asumsi dasar dari perspektif peneliti bahwa variabel upah/imbalan dipengaruhi oleh faktor – faktor seperti gaji, tunjangan, insentif atau bonus serta pendapatan tambahan (sampingan). Sedangkan tolok ukur dari variabel kesejahteraan sosial diperoleh dari kepemilikan rumah (pemukiman), standar gizi dan pangan, pakaian, pendidikan, serta kesehatan dan jaminan sosial. Data yang dihasilkan penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara variabel upah/imbalan dengan variabel kesejahteraan sosial sebesar 85%, yang berarti hubungan atau korelasi antara kedua variabel itu sangat kuat dan positif. Upah merupakan fenomena yang melibatkan buruh dan pengusaha, kebijakan upah (termasuk di dalamnya: kebijakan upah minimum, kebijakan penyederhanaan upah, dsb) harus mempertimbangkan kepentingan buruh dan pengusaha secara bersama-sama. Jadi upah yang sesuai bukanlah upah yang menjamin buruh mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, melainkan upah yang tepat sama dengan kontribusi buruh terhadap perusahaan atau produktivitasnya Fakta di perkebunan bahwa hampir seluruh pemetik teh di PTPN IX, Kebun Jolotigo adalah buruh perempuan. Alasan perusahaan memilih tenaga perempuan karena dianggap memiliki keahlian (skill) dan ketelitian yang cukup. Temuan ini cukup menarik karena di sini perempuan sebagai ‘buruh’ pemetik bukan hanya sebagai ibu rumah tangga melainkan juga sebagai tulang punggung keluarga dalam bekerja. Sekalipun upah/imbalan yang diterima minim namun memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan para pemetik teh ini. Upah yang diterima dari hasil memetik teh, sedikit banyak memiliki andil yang cukup besar dalam keuangan keluarga, terlebih dalam peningkatan kesejahteraan sosialnya. Kata Kunci : buruh, pemetik teh, upah/imbalan, kesejahteraan sosial.
Kata Kunci : Perburuhan