Laporkan Masalah

KOALISI PDI-P DENGAN PAN (Studi Kasus Koalisi PDI-P dengan PAN dalam Suksesi Kepala Daerah Kota Magelang tahun 2005)

TRIANAPUTRA, Rifqi Agung, Haryanto

2008 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)

Abstraksi Setelah berhasil menyelenggarakan pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden pada 2004, pilkada merupakan suatu tahap pencapaian baru dalam perkembangan demokrasi di Indonesia. Melalui pemilihan secara langsung atas presiden dan wakil presiden serta kepala-kepala daerah dan wakil-wakil kepala daerah maka kini, sekurang-kurangnya secara prosedural, kedaulatan politik benar-benar berada di tangan rakyat. Melalui pilkada secara langsung, rakyat menentukan sendiri para pemimpin eksekutif daerah tanpa keterlibatan dan intervensi DPRD. Namun sejauh mana pilkada memberikan kontribusi positif bagi kehidupan demokrasi di Indonesia. Sebab dalam penyelenggaraanya pilkada mensyaratkan adanya calon yang diusung dari partai politik maupun gabungan partai politik bagi yang tidak dapat memenuhi syarat minimal pengajuan calon 15% suara sesuai Undang-Undang 32 Tahun 2004. Sehingga koalisi merupakan salah satu prasyarat bagi pengajuan calon kandidat kepala daerah dalam pilkada. Dalam hal ini penelitian ditujukan pada studi kasus mengenai koalisi yang terjadi antara PDI-P dengan PAN di Kota Magelang karena memiliki kekhasan atau ciri tersendiri dibandingkan dengan kasus didaerah lain. Karena PDI-P dan PAN merupakan kedua partai yang cenderung memiliki platform dan pandangan ideologi yang berbeda, namun tidak menutup kemungkinan bahwa dalam berkoalisi ideologi dan platform partai tidak begitu memiliki peran penting. Sehingga diperlukan adanya penelitian mengenai ”Mengapa PDI-P memilih berkoalisi dengan PAN dan begitu juga PAN mau menerima koalisi dengan PDI-P?” Ternyata dari penelitian ini terjadi berbagai permasalahan yang cukup menghambat proses penelitian. Diantaranya dikarenakan koalisi yang dibangun antara PDI-P dan PAN merupakan koalisi yang dibangun secara elitis. Sehingga dalam prosesnya hanya diketahui oleh beberapa tokoh elit saja dan tidak ingin diketahui oleh masyarakat secara umum proses koalisinya. Dalam melakukan penelitian akhirnya peneliti melakukan pencarian data dengan memilih responden yang berkompeten dan bersangkutan dengan kasus ini serta untuk mengklarifikasi data yang telah didapatkan dari responden tokoh elit kemudian dikonfirmasikan kepada anggota partai dan masyarakat yang terkena dampak dari hasil kebijakan para tokoh elit tersebut. Akhirnya didapatkan sebuah kesimpulan bahwa koalisi antara PDI-P dengan PAN di Kota Magelang dalam Pilkada tahun 2005 dikarenakan PDI-P memandang tokoh dari PAN atau Muhammadiyah mampu memberikan banyak suara karena kompetensinya dan popularitasnya, sedangkan PAN mau menerima koalisi dengan PDI-P dikarenakan alasan pragmatis karena tidak ada pilihan yang paling menguntungkan selain bergabung dengan PDI-P. Selain daripada itu, dari penelitian ini muncul sebuah kesimpulan bahwa ”koalisi yang dibangun dalam proses yang dinamis maka cenderung menghasilkan koalisi pragmatis, sedangkan koalisi yang dibangun dalam proses yang statis maka cenderung menghasilkan koalisi permanen”. Maksudnya ketika partai politik dalam proses koalisi untuk pengajuan pasangan calon kandidat melakukan kerjasama secara silih berganti dan tidak menentu dengan partai lain maka koalisi yang dihasilkan nantinya cenderung akan bersifat pragmatis. Sebaliknya ketika dalam proses koalisi partai politik tidak melakukan pergantian koalisi dengan partai-partai yang lain dan tetap pada pilihan koalisi yang dibentuk dari awal, maka koalisi yang dibangun cenderung bersifat permanen. Kata kunci: koalisi partai politik, pilkada, pragmatisme, permanen, statis, dan dinamis

Kata Kunci : Partai Politik


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.