DIBALIK PERGULIRAN DANA P2KP (Studi Pada Masyarakat di Kelurahan Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta)
WARLICH, Siska, Djoko Suseno
2008 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)INTISARI Kemiskinan merupakan masalah yang tak kunjung usai dari generasi ke generasi. Indonesia pun hingga kini belum mampu lepas dari kemiskinan yang diderita rakyatnya. Berbagai program penanggulangan kemiskinan nyatanya belum sepenuhnya mampu mengatasi persoalan kemiskinan secara menyeluruh di tingkat masyarakat sebagai kelompok sasaran program. Sejak tahun 1999 yang lalu pemerintah meluncurkan salah satu program pengentasan kemiskinan yang disebut P2KP. Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) menekankan aspek pemberdayaan masyarakat, dan sebagai ending goals yaitu adanya perubahan sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami dan menanggulangi kemiskinan yang ada di daerahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya dampak dari perguliran dana bagi masyarakat di Kelurahan Ngupasan, apa saja faktor penyebab yang melatarbelakangi ketidakberdayaan masyarakat terkait perguliran dana P2KP di Kelurahan Ngupasan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli – September 2008 dengan mengambil lokasi di Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Analisa data yang digunakan yakni reduksi data, display data, menarik kesimpulan dan verifikasi data. Untuk memeriksa keabsahan data digunakanlah teknik ketekunan pengamatan dan triangulasi. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perguliran dana P2KP di Kelurahan Ngupasan berdampak pada ketidakberdayaan masyarakat. Ketidakberdayaan masyarakat ini dapat dilihat dari ketidakmampuan masyarakat miskin untuk mengakses dana tersebut dikarenakan oleh aturan main yang ditentukan P2KP dan pudarnya modal sosial di masyarakat berupa trust kepada masyarakat miskin. Sedangkan masyarakat penerima manfaat (KSM) yang dapat mengakses pinjaman dana, juga menjadi tak berdaya. Bukan ketidakberdayaan secara ekonomi melainkan ketidakberdayaan secara psikis, mental dan perilaku dimana mereka menjadi manja, ketergantungan, dan selalu memanfaatkan peluang demi mendapat pinjaman dana. Faktor penyebab dari ketidakberdayaan ini adalah karena mereka merupakan “korban baru” dimana dana BLM harus terus digulirkan kepada masyarakat sementara yang sebenarnya menjadi sasaran program tidak dapat mengaksesnya. BKM pun juga tidak dapat menjadi lembaga masyarakat yang representatif dimana kinerja BKM kurang efektif dan tak kuasa memutus mata rantai ini. Inilah yang kemudian bisa memicu munculnya masalah sosial di masyarakat dimana masyarakat golongan mampu menjadi manja dan terlena oleh pinjaman dana yang mereka sebut hutang. Hal ini kian mempertegas bahwa hutang merupakan suatu budaya yang kian mengakar di masyarakat. Adanya kecemburuan sosial di tengah-tengah masyarakat juga menjadi ancaman manakala hal ini terus terjadi dan terpelihara. Paradigma perubahan sikap dan perilaku yang didengungdengungkan P2KP nyatanya semakin jauh dari panggang. Justru perubahan sikap dan perilaku yang ada di masyarakat menunjukkan sebaliknya, sekecil apapun peluang yang ada, terlebih dengan lemahnya kontrol sosial dan pudarnya modal sosial di masyarakat, merupakan celah bagi mereka yang sebenarnya “berdaya” menjadi “seolah-olah tak berdaya” demi mendapat peluang tersebut.
Kata Kunci : Jaminan Sosial; Bantuan Langsung Tunai