Laporkan Masalah

Pemberdayaan Ekonomi Pada Perempuan Korban Kekerasan (Studi pada Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TPA) Rekso Dyah Utami Yogyakarta)

RAHMA, Anggin Nuzula, Anggin Nuzula Rahma

2008 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)

Perempuan korban kekerasan sebagian besar adalah perempuan yang mempunyai keterbatasan dalam lingkungan domestik rumah tangga. Keterbatasan ini mengakibatkan rendahnya tingkat mobilitas, kesejahteraan, pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Selain itu perempuan yang mengalami ketidakberdayaan ekonomi, juga sangat rentan terhadap perilaku kekerasan karena ia tidak memiliki posisi tawar. Oleh karenanya untuk membantu proses kemandirian perempuan agar berdaya secara ekonomi, P2TPA Rekso Dyah Utami memberikan bantuan berupa pelatihan ketrampilan dan modal usaha. Pelatihan ini diberikan bagi perempuan yang mengalami kekerasan yang berakibat KTD dan mengalami ketidakberdayaan ekonomi. Pelatihan ketrampilan ini meliputi pelatihan menjahit, salon, memasak, tata rias, dan kerajinan tangan. Sedangkan bantuan modal usaha berupa peralatan salon, peralatan memasak, gerobak dagangan, mesin jahit, dan alat-alat ketrampilan. Dari berbagai kegiatan pemberdayaan ekonomi tersebut, akan diketahui apakah program pemberdayaan yang dijalankan oleh aktor-aktor pemberdayaan mampu menciptakan kemandirian ekonomi perempuan korban kekerasan. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian “Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Korban Kekerasan” adalah evaluatif, dengan jenis evaluasi yang digunakan adalah evaluasi before-after single periode, dari data yang telah dikumpulkan kemudian disajikan dan diambil kesimpulan secara induktif. Program pemberdayaan ekonomi hadir untuk mempersiapkan perempuan korban kekerasan dalam rangka reintegrasi sosial yakni proses kembali ke masyarakat secara mandiri, dengan melihat kabutuhan perempuan. P2TPA Rekso Dyah Utami sebagai sebuah lembaga yang bersentuhan langsung dengan perempuan korban kekerasan, merasa bertanggung jawab untuk ikut mewujudkannya. Hal ini didukung pula dengan adanya kerjasama yang berjejaring dengan berbagai pihak, sehingga diharapkan mampu membantu perempuan dalam mendukung proses kemandirian ekonomi. Fakta yang ada dilapangan menunjukkan bahwa program pemberdayaan ekonomi yang dijalankan oleh P2TPA Rekso Dyah Utami belum mampu memberikan sumbangan yang signifikan dalam menciptakan kemandirian perempuan di bidang ekonomi. Hal ini disebabkan karena kurangnya komitmen baik dari lembaga maupun individu-individu yang mengikuti kegiatan pemberdayaan, sehingga dalam pelaksanaannya ditemukan beberapa kasus penyimpangan dan berbagai macam persoalan yang secara tidak langsung menghambat pelaksanaan kegiatan. Saran yang dapat diberikan dalam rangka memperbaiki program diantaranya adalah merubah sistem pengelolaan yang lebih memberikan perhatian, pendampingan, dan pengawasan terhadap klien. Kemudian dalam pemberian modal usaha dilakukan secara selektif untuk mencegah terjadinya miss allocation dana bantuan. Selain itu, Lembaga juga perlu menciptakan standar yang jelas mengenai ukuran keberhasilan program.

Kata Kunci : Gender


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.