Tinjauan Two Level Game dalam Kepentingan Jepang Mempromosikan 3R Initiative
NALENDRA, Arifa, Arifa Nalendra
2008 | Skripsi | Ilmu Hubungan InternasionalPermasalahan sampah berbahaya ini kemudian melatar belakangi munculnya Basel Convention on the Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and Their Disposal atau disingkat dengan Basel Convention pada tahun 1989. Argumen utama dari skripsi ini adalah dengan melihat fakta bahwa 3r initiative dan Basel Ban Amandemen sama-sama mengatur tentang lintas batas sampah dunia. Dan kenyataan bahwa Jepang tidak meratifikasi basel ban dan lebih memilih untuk mengeluarkan 3r initiative, tentu ada semacam kepentingan yang tidak dapat diakomodasi oleh amandemen dan oleh karenanya berusaha diwujudkan dalam 3r initiative. Kecilnya win-set untuk meratifikasi basel ban serta adanya titik lemah dalam Basel Convention, membuat Jepang melakukan voluntary defection untuk mendapatkan kesepakatan yang lebih baik dengan negara non-OECD, dengan mengeluarkan kebijakan 3R initiative dalam mengatasi permasalahan transboundary movements of hazardous wastes, sebagai hasil tarik-ulur kepentingan di level domestik dan internasional yang perlu untuk dimanajemen oleh PM Junichiro Koizumi. Penulisan skripsi ini hendak memaparkan tarik ulur yang terjadi diantara masing-masing aktor domestik yang membentuk preferensi kebijakan sampah di era Koizumi sebagai basis kepentingan domestik, serta menilai sejauh mana level internasional dapat memberikan tekanan pada level domestik, untuk menilai win-set yang ada. Selanjutnya dipaparkan kebijakan pomosi 3R Initiative sebagai hasil tarik-ulur kepentingan di level domestik dan internasional yang perlu untuk dimanajemen oleh PM Junichiro Koizumi. Metode ini dilakukan dengan menelusuri, mengumpulkan, dan membahas data-data sekunder yang berasal dari berbagai literatur seperti buku-buku, artikel, jurnal, website, surat kabar, dan majalah.
Kata Kunci : Kebijakan Sampah - Jepang