Sinergi Antar Aktor dalam Recovery Pariwisata Yogyakarta Pasca–Gempa Bumi 27 Mei 2006 Studi Kasus Tentang Kerjasama Pemerintah dan Non-Pemerintah Terhadap Pelaksanaan Pemulihan Sektor Pariwisata
QADRI, Arif Maulana, Arif Maulana Qadri
2008 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)Dunia Pariwisata menjadi sektor penting di Yogyakarta, jelas merasakan dampak yang besar, tidak hanya fisik—infrastruktur (hotel, restoran & travel) dan destinasi wisata—tetapi juga pencitraan (kenyamanan & keamanan) pariwisata Yogyakarta. Perkiraan total kerugian, termasuk kerusakan fisik yang ditambah dengan potensi akumulasi kerugian dari sektor pariwisata, ditaksir lebih dari 2 trilyun rupiah. Pariwisata dalam konsep industri, pariwisata Indonesia terdiri dari dua hal,promosi (image) wisata dan produk wisata. Propinsi DIY menerapkan hal yang sama dan membagi kewenangannya melalui dua lembaga terpisah. Baparda (badan pariwisata daerah) mengemban tanggung jawab untuk pengemasan image pariwisata, termasuk promosi wisata didalamnya. Dinas kebudayaan menjadi lembaga yang membina dan memfasilitasi segala macam yang berkaitan dengan kebudayaan yang menjadi produk wisata. Recovery / pemulihan Pariwisata, hanya itu kata kunci dalam permasalahan pariwisata pasca gempa dan kata tersebut memang harus tercapai.Bila melihat potensi pariwisata Yogya dan track-record dalam dunia kepariwisataan Indonesia, pariwisata di Yogyakarta layak mendapat perhatian serius. Yogyakarta membutuhkan recovery atau proses pemulihan yang tepat dan efesien. Dunia ‘Budpar’ selama ini lebih banyak dijalankan oleh pihak swasta dan masyarakat, pihak pemerintah terlihat pasif atau bisa dibilang sekedar memantau perkembangan. Pada DIY meski terdapat instansi Baparda dan Dinas Kebudayaan Propinsi dirasa belum cukup untuk menangani recovery pariwisata Yogya secara keseluruhan. Recovery pariwisata Yogya dapat mengadopsi konsep partnership kemitraan dalam pola kerjasamanya. Recovery berbasis partnership bisa menjadi alternatif terbaik perencanaan pembangunan kembali sektor pariwisata yang telah terpuruk akibat gempa. Aktifitas recovery pariwisata dalam prosesnya, bila melihat secara umum aksi-aksi yang dilakukan pada penanggulangan bencana, terdapat perbedaan pada tingkat keaktifan antara pemerintah dengan non-pemerintah. Kalangan nonpemerintah tampak lebih bersikap aktif dan pemerintah bersikap pasif. Keaktifan ini ditunjang salah satunya terlihat dari kemampuan para aktor swasta yang turut menjadi korban bencana dan dapat segera melakukan self-recovery atau otomatisasi, terutama pemulihan pada level infrastruktur pariwisata seperti hotel,restoran dan agen perjalanan. Dilihat lebih dalam melalui pengamatan di lapangan, pada recovery pariwisata terdapat kerjasama yang terbangun diantara aktor, sehingga muncul suatu sinergi yang membawa pada pengkondisian yang baik pada industri pariwisata. Walaupun demikian pola kemitraan yang sesungguhnya sulit dicapai,dapat terbentuk dalam beberapa momen aksi proyek, meski tidak sempurna.Terdapat bias perwujudan kemitraan yang tercipta dalam tataran nilai pada konsep kemitraan dengan proses perwujudan kemitraan dalam beberapa variabel model kerjasama. Kepercayaan diantara aktor sulit tercapai, walaupun skema proyek gabungan atas koordinasi bersama terwujud.
Kata Kunci : Pariwisata; Pasca Bencana