Eksistensi Penyandang Cacat dalam Masyarakat (Persepsi Masyarakat Terhadap Penyandang Autis)
TARESA, Doni H, Doni Taresa H
2006 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)Pembangunan bidang kesejahteraaan sosial termasuk di dalamnya upaya pelayanan kesejahteraan sosial bagi penyandang cacat merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan diharapkan mereka tidak hanya menjadi objek dari pembangunan, melainkan menjadi subjek pembangunan itu sendiri. Sebelum para penyandang cacat dapat bergabung dalam proses pembangunan tersebut, mereka harus dapat bersatu dengan anggota masyarakat lainnya dengan identitas yang mereka miliki sebagai penyandang cacat. Mereka harus bersosialisasi dengan anggota masyarakat pada umumnya sebagai makhluk sosial. Dalam penelitian ini akan dibahas salah satu jenis kecacatan yang bisa dikatakan jenis baru, yaitu penyandang autis, dimana gangguan utama dalam autisme ini adalah dalam komunikasi dan interaksi sosialnya. Penyandang autis mempersepsikan dunia secara berbeda dari anggota masyarakat lainnya. Mereka bisa berperilaku tidak wajar sebagai akibat dari adanya perbedaan persepsi terhadap lingkungan sekitar dan juga cara mereka dalam berkomunikasi yang sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat terhadap penyandang autis dalam kehidupan bermasyarakat, yang sangat berpengaruh terhadap eksistensi penyandang autis. Untuk mengkaji fenomena tersebut digunakan Paradigma Definisi Sosial dengan menggunakan Teori Interaksionisme Simbolik dengan jenis penelitian kualitatif. Pemaparan persepsi masyarakat terhadap penyandang autis secara deskriptif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi sehingga bisa menggambarkan berbagai macam persepsi yang ada dari masyarakat dengan hasil interpretasi mereka masing-masing. Menurut konsepnya, untuk dapat menjadi manusia dengan sifat-sifatnya, maka dia harus belajar dari manusia lainnya. Proses belajar tersebut tentu saja melalui proses komunikasi dan interaksi sosialnya. Berkaitan dengan gangguan pada penyandang autis, maka proses tersebut akan terhambat dan membutuhkan waktu tersendiri untuk dapat dilalui oleh penyandang autis. Mengingat intelegensi mereka normal, maka tentu saja mereka juga mempunyai kemampuan berkaitan dengan intelektualitasnya. Persepsi masyarakat sangat mempengaruhi jalannya komunikasi mereka terhadap penyandang autis. Masyarakat yang melihat penyandang autis dengan perilakunya yang tidak wajar, tentu saja akan mempunyai persepsinya sendiri terhadap penyandang autis. Berbeda dengan mereka yang sudah memahami atau sekedar mengetahui karakteristik dari autisme, tentu saja mempunyai penilaian tersendiri, dan semua penilaian tersebut memberikan dampak terhadap proses komunikasi atau interaksi terhadap penyandang autis. Salah satu permasalahan penyandang cacat pada umumnya adalah berkaitan dengan penerimaan sosial mereka dalam masyarakat, maka begitu juga dengan penyandang autis dimana proses tersebut terjadi bersamaan dengan proses sosialisasinya. Jika proses tersebut berjalan terus-menerus, maka penyandang autis dan penyandang cacat pada umumnya akan selalu menjadi objek dari pembangunan atau bahkan beban dari suatu pembangunan, tanpa memberikan kesempatan kepada mereka untuk berpartisipasi di dalamnya.
Kata Kunci : Penyandang Cacat