Preman dan Politik (Studi Tentang Politik Kelompok Preman Jlagran Yogyakarta Dalam Mencari Massa Pada Pemilu 2004)
UJIANTO, Dwitya Laksono Purno, Dwitya Laksono Purno Ujianto
2007 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)Dua hal yang paling mudah berkembang di negeri ini adalah menjadi politikus dan preman. Kenyataan ini tumbuh mencolok setelah Reformasi. Orang bukan hanya bebas berpolitik dan bergairah menjadi politikus, melainkan juga bebas menjadi preman. Reformasi memang membawa berbagai antagonisme. Di satu pihak semakin kuat tuntutan tegaknya HAM, di lain pihak, terjadi krisis nilai-nilai penegak hukum. Akibatnya, preman mendapat ruang berkembang dan berkuasa, melintasi berbagai batas territorial. Keterlibatan preman atau kelompok preman dalam wilayah politik tidak terjadi hanya pada masa saat ini (Reformasi). Sejarah politik Indonesia mencatat,keterlibatan preman sudah terjadi sejak zaman Hindia Belanda. Bila digambarkan,akan terlihat seperti grafik naik-turun. Pada zaman Hindia Belanda, keberadaan mereka merupakan simbol perlawanan atau pembelaan terhadap rakyat kecil (petani) yang tertindas oleh pemerintahan kolonial dan tuan tanah. Zaman Revolusi, keberadaan mereka direkrut oleh kaum pergerakan Revolusioner, dan tentunya gerakan mereka lebih terfokus pada usaha mengusir bangsa penjajah dan berpolitik secara terbuka. Tidak heran setelah Revolusi, beberapa preman yang beruntung (karena kedekatan dengan tokoh Revolusioner), memperoleh jabatan penting di pemerintahan. Sebagai contoh, Imam Sjafe’i yang menjabat Menteri Negara Urusan Keamanan Rakyat, dalam Kabinet 100 Menteri bentukan Soekarno. Masa Orde Lama adalah masa runtuhnya atau tenggelamnya ”dinasti preman”. Preman pada masa ini hanyalah kumpulan anak-anak muda yang tergabung dalam ”geng-geng”, dan melakukan tindakan kriminal yang bertaraf kecil. Dan pada masa Orde Baru, ”dinasti preman” mulai muncul dan terangkat kembali ke permukaan. Pada masa inilah puncak keterlibatan preman dalam ranah politik terjadi, ketika para preman direkrut dan dipelihara (secara terang-terangan)serta difungsikan sebagai salah satu mesin politik Soeharto dan Golkar. Bagaimana politik kelompok preman (yang identik dengan kekerasan) terus berlanjut sampai sekarang, khususnya di kota Yogyakarta? Untuk memberikan gambaran tentang keterlibatan kelompok preman pada ranah politik, maka tulisan ini mencoba mengemukakan bagaimana politik kelompok preman dalam mencari massa pada Pemilu 2004 dalam sebuah studi di wilayah Jlagran Yogyakarta. Politik yang dilakukan oleh kelompok preman Jlagran Yogyakarta pada umumnya untuk pemenuhan kebutuhan atau faktor ekonomi. Dengan berbagai macam bentuk, cara berpolitik, serta jaringan, menunjukkan bahwa politik kelompok preman Jlagran Yogyakarta, tidak jauh dari politik kekerasan. Dan hal ini menunjukkan bahwa kultur kekerasan di Indonesia selalu mengiringi setiap jejak langkah perpolitikan di bumi Indonesia.
Kata Kunci : Politik; Massa; Pemilu