Community Based Waste Management dalam Bingkai Analisa Collective Action Studi Kasus di Gondolayu Lor, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta
AFFAN, Muhammad, Muhammad Affan
2007 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)Persoalan hidup semakin hari semakin kompleks. Demikian pula halnya dengan apa yang harus dihadapi oleh masyarakat dan pemerintah terkait dengan persoalan sampah sebagai sebuah masalah lingkungan yang pelik dewasa ini. Kita perlu mengetahui bahwa sampah telah memiliki potensi untuk berkembang menjadi masalah yang kompleks sejak ia masih berwujud bahan mentah untuk proses produksi sampai dengan akhir jalur konsumsinya. Setidaknya inilah konsep yang dibangun oleh pendekatan clean production dalam melihat keberadaan sampah dan pengelolaannya. Kajian ini tidak berusaha untuk melihat penekanan yang dilakukan oleh pendekatan clean production terkait dengan pentingnya merancang ulang industri dan menciptakan mekanisme produksi yang mampu menghasilkan produk ramah lingkungan dengan efek samping yang tidak berbahaya bagi umat manusia maupun alam. Namun, kajian ini lebih menitik beratkan penerapan sejumlah prinsip dari pendekatan ini untuk melihat kegiatan pengelolaan sampah –seperti proses pemilahan sampah dengan metode recycle, reuse, dan reduce (3R) –dalam bingkai analisa collective action untuk menjelaskan kolektifitas bertindak yang terbentuk di masyarakat. Pemerintah Kota Yogyakarta sudah mulai melirik implementasi dari prinsip maupun metode pengelolaan sampah dalam pendekatan clean production ini untuk membantu penyelesaian masalah pengelolaan sampah yang sedang dihadapi oleh Pemerintah Kota Yogyakarta. Selama ini, proses pengelolaan sampah lebih banyak menggunakan pendekatan end of pipe, dimana penggunaan pendekatan ini membutuhkan biaya operasional yang tinggi, pengadaan lahan penampungan yang luas, serta perlu didukung dengan SDM yang tidak sedikit jumlahnya. Pemerintah Kota Yogyakarta memiliki kemampuan finansial dan sumberdaya yang terbatas untuk itu,terlebih bila dikaitkan dengan persoalan keberadaan TPSA. Untuk itu, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah menjadi lebih penting karena satu stakeholder belum tentu bisa menjawab semua persoalan pengelolaan sampah. Masyarakat Gondolayu Lor merupakan komunitas yang mampu membangun kolektifitas bertindak dalam menjawab persoalan ini ketika sejumlah komunitas gagal atau belum berpikir untuk memilah dan mengolah sampah dengan metode 3R.Keberhasilan dari komunitas ini dalam membentuk kolektifitas bertindak dan mengimplementasikan pengelolaan sampah berbasis masyarakat, kemudian mendorong penulis untuk mencari tahu dan menjawab pertanyaan utama dari kajian ini, yaitu : “Bagaimana collective action dapat terbentuk dan bekerja untuk merespon penanganan pengelolaan sampah di dalam komunitas Gondolayu Lor?” Analisa untuk menjawab pertanyaan tersebut yang dilakukan dalam bingkai teoritik collective action. Pemahaman terhadap konsep partisipasi, modal sosial,pentingnya posisi dan peran dari primum mobile serta konsep insentif, merupakan temuan yang menjelaskan motivasi, faktor determinan, serta dinamika dari collective action dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas di Gondolayu Lor dengan sederet persoalan dan solusi yang dapat ditawarkan terkait dengan hal tersebut. Kajian terhadap konsep common resources dalam melihat TPSA sebagai goods/barang, fenomena tragedy of commons, serta prisoners dilemma merupakan sisi lain yang dikedepankan dalam kajian collective action ini. Pada akhirnya, kajian terhadap network, intergovernmental management, maupun kebijakan publik yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat/komunitas merupakan dimensi yang perlu diperhatikan dalam penanganan persoalan sampah di Kota Yogyakarta ini.
Kata Kunci : Pengelolaan Sampah