Laporkan Masalah

Adopsi dan Adaptasi Distro (Distribution Outlet) di Yogyakarta

PRAYOGA, Mimbar L, Mimbar L. Prayoga

2008 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)

Industrialisasi sektor pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, di kota Yogyakarta telah menjadikan Yogyakarta sebagai kota dengan karakter demografis yang unik. Di mana sementara rata-rata prosentase pertumbuhan penduduk berdasar kelompok umur adalah sebesar 5,67%, prosentase pertumbuhan penduduk usia sekolah dengan rentang umur antara 15-24 tahun adalah sebesar 20,57%. Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk usia sekolah dimungkinkan terjadi karena banyaknya migran yang datang dan menetap di Yogyakarta untuk mengenyam pendidikan. Apa yang kemudian terjadi adalah bertemunya nilai- nilai sosio-kultural para migran dan penduduk Yogyakarta secara umum dalam sebuah interaksi, yang kemudian memungkinkan terjadinya proses pertukaran nilai hingga pada gilirannya berakibat pada terciptanya nilai- nilai sosio-kultural baru. Proses inilah yang kiranya turut melatar-belakangi perubahan pola kehidupan masyarakat Yogyakarta. Terlebih dengan semakin menguatnya peran media massa di dalam kehidupan sosial masyarakat. Di tengah dinamika sosial masyarakat Yogyakarta tersebut, muncul sebuah fenomena baru di bidang industri, yaitu Distro (Distribution Outlet). Bagi remaja di Yogyakarta, Distro telah menjadi tempat berbelanja yang unik dan praktis; sarana refreshing; serta sebagai sarana untuk bersosialisasi dan berkelompok. Distro yang pada awalnya merupakan produk subkultur perlawanan terhadap kultur dominan yang telah ada dan mapan, seolah-olah, telah terinkorporasi dan menjadi bagian dari faktor yang mendorong terbentuknya gaya hidup konsumtif kaum muda. Namun, latar belakang dan proses pertumbuh-kembangan Distro di Yogyakarta menunjukkan bawasannya, alih-alih menjadi bagian dari sistem produksi industrial bercorak kapitalis sebagaimana telah biasa dijumpai dalam sistem produksi masyarkat pada umumnya, Distro berkembang sebagai unit distribusi industri fashion kaum muda di Yogyakarta. Lebih jauh, pendidikan; migrasi; serta media massa- lah yang kemudian menjadi katalisator proses difusi inovasi Distro. Dan tidak hanya berhenti pada tahap adopsi, kaum muda di Yogyakarta mengadaptasikan Distro, sebagai sebuah bentuk inovasi,sedemikian rupa sehingga Distro baru merupakan puncak dari “gunung es”industri fashion kaum muda lengkap dengan dinamikanya sendiri. Dinamika kaum muda pelaku industri fashion di Yogyakarta menunjukkan bawasannya industri fashion kaum muda di Yogyakarta merupakan kelompok sosial yang memiliki identitas; nilai dan norma; serta saluran komunikasinya sendiri. Sehingga kemudian industri fashion kaum muda di Yogyakarta dapat disebut sebagai institusi sosial yang memiliki sistem sosial,lengkap dengan struktur; pola perilaku dan mekanisme pelestarian dirinya.Maka, tidak sekedar menjadi bagian dari budaya obyektif masyarakat, yaitu sistem produksi bercorak kapitalistik, industri fashion kaum muda di Yogyakarta menjadi hasil dari subyektifikasi budaya obyektif. Yang mana meskipun telah menjadi industri, industri fashion kaum muda di Yogyakarta tidak kehilangan idealismenya.

Kata Kunci : Gaya Hidup; Distro


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.