Artikulasi Hak-hak Kesehatan Reproduksi Perempuan Petani Jawa Studi Tentang Konteks dan Cara Negosiasi Hak-hak Kesehatan Reproduksi Perempuan dalam Rumah Tangga pada Keluarga Petani Jawa
ASRIANI, Desintha Dwi, Desintha Dwi Asriani
2008 | Skripsi | SosiologiPenelitian dengan tema, ARTIKULASI HAK-HAK KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN PETANI JAWA : Studi Tentang Konteks dan Cara Negosiasi Hak-hak Kesehatan Reproduksi Perempuan dalam Rumah Tangga pada Keluarga Petani Jawa merupakan sebuah wacana deskriptif dalam memotret makna sosial dibalik tingginya angka kematian ibu di Indonesia. Keberadaan AKI pada level tertinggi se-Asia tentu tidak berlebihan jika menyebutnya sebagai fenomena yang layak dikaji. Oleh karena itulah dengan mendudukan perempuan petani Jawa di kawasan Lemah bang Gunung Kidul, sebagai subjek penelitian, maka pemahaman kesehatan reproduksi sebagai rujukan awal dapat dikaji seluas-luasnya. Menggunakan perkawinan antara pendekatan struktural dan kultural, penelitian ini juga memiliki tujuan untuk menemukan peluang-peluang yang dapat dijadikan sebagai media negosiasi pemenuhan hak-hak kesehatan reproduksi tersebut. Batasan studi yang digagas adalah menilik persoalan perempuan menggunakan pisau analisis feminis sosialist. Opresi yang diterima perempuan akibat persekongkolan patriarkhi dan kapitalisme dipetakan dalam empat ranah, yakni produksi, reproduksi, seksualitas dan sosialisasi. Dalam skema produksi perempuan sering mengalami diskriminasi upah, karena keterlibatannya yang tidak dianggap sebagai kerja pokok. Sehingga terjadi pembatasan-pembatasan secara struktural terhadap akses sumber daya ekonomi. Sementara pada wilayah reproduksi, seksualitas dan sosialisasi, perempuan juga masih harus memiliki tanggung jawab. Seperti tugas mendidik anak, sasaran penjualan alat kontrasepsi, serta pola asuh yang menempatkan perempuan sebagai suara minoritas atau subordinat. Kondisi yang demikianlah yang menempatkan perempuan pada subjek yang memiliki “beban ganda”. Namun sebagai perempuan Jawa, mereka tidak layak jika terus-menerus disebut sebagai kaum yang tidak berdaya. Terdapat berbagai potensi kultural yang dapat digunakan sebagai alat perlawanan. Sifat-sifat perempuan Jawa yang terbungkus dalam konsep mewujudkan harmoni merupakan sebuah temuan menarik sebagai skenario optimis dalam menaikan posisi tawar perempuan. Skema negosiasi yang dialogis merupakan alat perempuan untuk melakukan hegemoni tandingan (counter hegemony) terhadap variasi struktur yang opresif. Mulai dari cara mereka menguasai alat produksi, terlibat dalam pembuatan-pembuatan keputusan rumah tangga, inisiatif menggunakan alat kontrasepsi hingga menentukan metode pengasuhan agar anak-anak terbiasa tidak bias gender. Demikian halnya dalam konteks negara, sebagai perumus kebijakan juga ditemukan beberapa celah agar regulasi dapat memuat perlidungan hak-hak kesehatan reproduksi. Yakni dengan terus menguatkan pemahaman akan potensi ganda perempuan bukan lagi beban ganda. Sehingga selalu terdapat legitimasi yang tegas dalam memenuhi hak-hak perempuan baik di dalam sektor produksi maupun reproduksi. Sekaligus menjadi acuan dalam program-program menekan AKI di setiap daerah agar dapat berjalan sesuai dengan ideologi yang tidak pragmatis.
Kata Kunci : Perempuan: Kesehatan Reproduksi