Laporkan Masalah

Etnisitas dan Perilaku Memilih Masyarakat Betawi (Studi Tentang Pengaruh Faktor Etnisitas Terhadap Perilaku Memilih Masyarakat Betawi Pada Pilkada DKI Jakarta 2007)

FIRDAUS, Muhammad Sendy Adam, Muhammad Sendy Adam Firdaus

2008 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)

Tanggal 8 Agustus 2007 menjadi hari yang bersejarah bagi seluruh penduduk Jakarta karena pada saat itu untuk pertama kalinya mereka memilih langsung gubernur yang akan memimpin Jakarta. Momen ini terasa lebih istimewa bagi masyarakat Betawi karena impian mereka selama ini untuk memiliki gubernur yang beretnis Betawi menjadi kenyataan. Selama 62 tahun Indonesia merdeka, ibukota belum pernah sekalipun dipimpin oleh gubernur dari etnis Betawi. Oleh karena itu momentum pilkada Jakarta yang lalu menjadi titik balik bagi masyarakat Betawi untuk memperjuangkan kepentingannya yaitu memiliki gubernur beretnis Betawi. Menarik untuk diketahui apakah ada hubungan antara etnisitas terhadap perilaku memilih masyarakat Betawi dalam pilkada Jakarta yang lalu mengingat salah satu calon yang bersaing dalam pemilihan (baca: Fauzi Bowo) adalah putera Betawi. Untuk mengetahui hal tersebut, maka dilakukanlah penelitian survei terhadap responden Betawi yang sudah ditetapkan di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jakarta Selatan. Mengingat adanya keterbatasan dalam hal waktu, dana, maupun tenaga maka digunakanlah teknik penarikan sampel kuota. Penelitian ini berangkat dari hipotesa bahwa ada hubungan antara etnisitas dengan perilaku memilih masyarakat Betawi dalam Pilkada Jakarta. Dalam studi voting behavior fenomena ini dapat dijelaskan dengan model sosiologis yang dikembangkan oleh madzhab Columbia. Asumsi dasar dari pendekatan ini adalah bahwa pilihan politik seseorang sangat ditentukan oleh karakteristik sosial (seperti pekerjaan, pendidikan, dan lain-lain) serta latarbelakang sosiologis (seperti agama, wilayah, suku, jenis kelamin, dan sebagainya). Data yang dihasilkan penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara etnisitas dengan perilaku pemilih Betawi. Mayoritas responden (66 persen) penelitian ini menyatakan sangat penting bagi Jakarta untuk dipimpin oleh gubernur beretnis Betawi, sementara 24 persen menyatakan penting, dan hanya 10 persen responden yang mengatakan biasa saja. Riset ini juga mendapati bahwa dalam pilkada Jakarta yang lalu mayoritas responden (34 persen) menyukai kandidat didasari alasan kandidat berasal dari suku yang sama. Oleh karena itu terlahir sebagai seorang anak Betawi seakan menjadi privileges bagi Fauzi Bowo dalam pilkada Jakarta. Terlebih lagi Foke dianggap lebih “Betawi” ketimbang Dani Anwar, seorang putera Betawi lainnya yang maju untuk posisi wakil gubernur dari kandidat Adang Daradjatun. Ada sekitar 30% responden yang menganggap kadar kebetawian Dani Anwar sangat kecil atau kecil, sangat kontras jika dibandingkan dengan penilaian responden yang merasa dirinya Betawi terhadap kadar kebetawian Fauzi Bowo yang 99% berada di rentang sangat besar sampai cukup besar. Tidak mengherankan jika pada akhirnya sebagian besar responden (88 persen) lebih menyukai Fauzi Bowo – Prijanto daripada Adang Daradjatun – Dani Anwar. Temuan penelitian ini mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa dalam pilkada Jakarta yang lalu faktor etnisitas memegang peranan penting dalam menentukan pilihan politik masyarakat khususnya orang Betawi. Dengan demikian penelitian ini menghadirkan wacana baru dalam studi perilaku memilih di Indonesia yang selama ini lebih sering menguji variabel agama dan orientasi agama. Selain itu studi-studi terdahulu pada umumnya meneliti perilaku pemilih pada pemilu legislatif.

Kata Kunci : Perilaku Memilih; Etnisitas; Betawi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.