Laporkan Masalah

Pemberdayaan Masyarakat Untuk Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (Studi Kasus Upaya Perkumpulan Kappala Indonesia Dalam Pemberdayaan Masyarakat Lereng Merapi utk Pengelolaan Risiko Bencana

ISHOM, Muhammad Walid, Muhammad Walid Ishom

2008 | Skripsi | Manajemen dan Kebijakan Publik (dh. Ilmu Administrasi Negara)

Sebagai sebuah kejadian alam yang lumrah terjadi, letusan gunung berapi tidak jarang dimaknai sebagai sebuah bencana bagi sekelompok orang. Namun demikian, sesungguhnya fenomena alamiah tersebut akan benar-benar menjadi sebuah bencana tatkala masyarakat yang tinggal di sekitar gunung berapi mempunyai tingkat kerentanan yang tinggi dengan kemampuan dan pengetahuan yang rendah dalam mengelola ancaman. Penanganan bencana hingga saat ini masih saja dilakukan melalui mekanisme eksternal yang cenderung memposisikan masyarakat sebagai obyek saja. Upaya pengelolaan bencana seharusnya berpangkal pada tindakan penumbuhan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam mengelola ancaman. Pengelolaan risiko bencana yang berbasis komunitas merupakan upaya pengelolaan risiko bencana atas dasar inisiatif, kemampuan, dan pengawasan oleh komunitas sekaligus menjadi wahana bagi komunitas yang tinggal di daerah rawan bencana guna melakukan upaya-upaya adaptasi dan bertahan hidup (survive) menurut pemahaman dan kemampuan yang dimiliki masyarakat. Penelitian ini mencoba mendeskripsikan langkah dan upaya Kappala Indonesia dalam memberdayakan masyarakat di lereng Gunung Merapi untuk mengasah kemampuan dalam mengelola ancaman bencana secara kolektif dan mandiri. Oleh karena itu pula penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan yang dipilih dalam penelitian ini adalah dari pihak Kappala Indonesia sebagai pemberdaya dan dari Baker PGDM RS DR. Sardjito Yogyakarta sebagai mitra pemberdaya. Sedangkan dari masyarakat lereng Merapi dipilih informan dari pengurus PASAG Merapi dan perwakilan masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa peran Kappala Indonesia dalam melakukan penguatan komunitas lebih sebagai fasilitator dalam proses pemberdayaan masyarakat untuk mengorganisir diri dan melakukan identifikasi kebutuhan lokal melalui proses PRA, serta membangun jejaring dengan sumberdaya dari luar komunitas. Sedangkan kekuatan strategi informalitas menjadi kunci utama Kappala Indonesia untuk menyatu dengan masyarakat. Dalam hal transformasi pengetahuan dan keterampilan teknis kegiatan yang lakukan lebih ditujukan untuk mengasah kemampuan alamiah masyarakat dalam hal penanganan korban dan konsep bencana dan pengelolaannya. Kegiatan penguatan yang dilakukan di Merapi sebagian diantaranya merupakan Rencana Tindak Lanjut sebagai hasil dari kesepakatan dan berdasar atas kebutuhan masyarakat sebagai bukti telah tumbuhnya partisipasi dan kesadaran masyarakat akan perlunya tindakan pengelolaan risiko bencana. Kappala Indonesia juga melakukan pengkaderan terhadap anggota PASAG Merapi sebagai upaya menjaga keberlanjutan upaya pengelolaan risiko bencana secara mandiri oleh masyarakat di lereng Merapi. Sebagai masukan, perlu dilakukan upaya untuk menjaga dinamika dan semangat masyarakat dalam melakukan setiap upaya peningkatan kapasitas serta membangun dan memperkuat jaringan yang sudah terbangun dalam rangka kemandirian PASAG Merapi serta monitoring yang kontinyu dari lembaga pemberdaya. Demikian halnya dengan Kappala Indonesia sebagai lembaga pemberdaya masyarakat sudah selayaknya berbenah diri dalam hal regenerasi dan kemandirian finansial dengan menggali potensi organisasi dan melakukan penggalangan dana secara proaktif guna menjaga eksistensi dan kemandirian yang berkelanjutan.

Kata Kunci : Pemberdayaan Masyarakat; Risiko Bencana


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.