Laporkan Masalah

Proses Negosiasi 2002-2003 Antara Pemerintah Sri Langka dan LTTE

FIRAWATI, Titik, Titik Firawati

2007 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Tatanan kehidupan masyarakat Sri Lanka menjadi tidak stabil karena kelompok etnis mayoritas Sinhala dan kelompok minoritas Tamil berebut supremasi politik di Sri Lanka.Pemerintah yang didominasi etnis Sinhala mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang memihak pada kelompok Sinhala. Pada umumnya proses perundingan berujung pada kegagalan karena beberapa faktor yang bersumber dari dalam dan dari luar konteks negosiasi, antara lain pihak-pihak yang berunding tidak memprioritaskan isu pembicaraan damai.Semua upaya telah dilakukan perdana menteri, LTTE dan pemerintah Norwegia untuk menjaga konteks perundingan agar selalu kondusif, tetapi negosiasi gagal. Sebelum gagal, negosiasi 2002-2003 dinilai telah menghasilkan banyak perkembangan positif bagi pihak pemerintah Sri Lanka dan LTTE. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kemajuan yang dihasilkan juga memberikan kontribusi besar terhadap kelancaran proses perundingan itu sendiri. Salah satu aspek keberhasilan yang bisa dilihat dengan jelas adalah masing-masing kubu menciptakan momentum diplomatik dan berusaha mempertahankannya. pelajaran penting yang bisa kita petik dari peristiwa ini adalah membicarakan kepentingan dan mencari solusi lebih berharga bagi proses negosiasi ketimbang mempertahankan posisi. Dalam kondisi tertentu, konsesi perlu dilakukan untuk menggerakkan proses perundingan yang macet. Kedua, perunding harus memperhatikan segala aspek yang bisa menggagalkan negosiasi. Tidak hanya aspek dari dalam, tetapi juga aspek dari luar perundingan yang seringkali terjadi di luar kontrol perunding. Aspek ini tidak dapat diprediksi sehingga menghasilkan kegagalan yang bisa mengancam negosiasi kapan saja. Ketiga, jangan mengintervensi jika memperburuk negosiasi.

Kata Kunci : Negosiasi; Konflik; Srilangka


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.