Pendidikan yang Membebaskan Bagi Diffabel (Studi Tentang Proses Belajar Melalui Jalur Pendidikan Informal yang Dijalani Seorang Diffable di Kota Yogyakarta)
HAPSARI, Reno Dwi, Reno Dwi Hapsari
2007 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)Pandangan masyarakat tentang ’kecacatan’ yang identik dengan ketidaksempurnaan, dan bahkan sebuah aib, seringkali memarginalkan posisi para penyandang cacat atau diffable di tengah masyarakat kita. Pandangan semacam itu membawa pengaruh besar yang sayangnya lebih sering menyulitkan diffable terutama dalam hal bersosialisasi dan mengembangkan dirinya. Sebagian dari masyarakat diffable memang mampu melepaskan diri dari pandangan negatif tersebut. Mereka hidup menyatu dengan masyarakat dan bahkan menjadikan apa yang dianggap suatu kekurangan oleh orang lain itu sebagai sebuah anugerah. Mereka dapat menyangga hidupnya sendiri, menjadi tenaga produktif di tengah masyarakat. Sebagian lagi tetap terpisah dari kehidupan masyarakat luas, seperti yang dialami oleh diffable yang menjadi subjek penelitian ini. Ia terpisah karena isolasi yang dilakukan orangtuanya. Sementara itu, salah satu tujuan pendidikan adalah untuk menyediakan ruang bagi individu untuk dapat mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan dirinya maupun masyarakat. Individu yang dimaksudkan disini meliputi semua orang tanpa terkecuali termasuk diffable. Bagi diffable, pemerintah menyelenggarakan pendidikan khusus yang dikenal dengan pendidikan luar biasa yang pelaksanaannya diwujudkan dalam Sekolah Luar Biasa (SLB). Tujuan pendidikan luar biasa di Indonesia yaitu untuk mempersiapkan diffable agar kelak dapat hidup terpadu di tengah masyarakat dan menjadi manusia mandiri. Selain melalui SLB, diffable juga dapat memperoleh pendidikan melalui sekolah inklusi atau melalui kegiatan belajar di rumah (home schooling) yang akhir-akhir ini marak di beberapa kota besar di Indonesia. Terinspirasi dari pengalaman penulis menjadi pendamping belajar diffable dalam sebuah kegiatan belajar informal (privat, di rumah) di Kota Yogyakarta selama 3 tahun, penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan “Bagaimana proses belajar yang dijalani diffable melalui kegiatan belajar secara informal?”. Proses belajar disini diuraikan melalui strategi pendampingan yang diterapkan dalam kegiatan belajar dan respon diffable terhadap kegiatan belajar tersebut. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus. Data-data diperoleh dengan wawancara, observasi, serta dokumen pribadi berupa catatan harian milik diffable subjek penelitian ini. Di lapangan, penulis menjumpai bahwa strategi pendampingan yang diterapkan dalam kegiatan belajar di rumah secara informal ini, telah disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan diffable. Penyesuaian terutama dilakukan pada materi pelajaran dan cara penyampaiannya. Pendampingan oleh orang yang sebaya juga diterapkan dalam kegiatan belajar ini untuk menyiasati keterbatasan interaksi diffable akibat isolasi yang dialaminya. Proses belajar ini juga berhasil memberikan pengalaman penyadaran yang kemudian membawa perubahan besar yang positif pada diri diffable, yaitu adanya sikap yang lebih terbuka dan proaktif. Perubahan ini terutama terjadi karena pengaruh pendamping belajar yang umurnya sebaya. Di sisi lain, kegiatan belajar ini tetap tidak bisa memberikan solusi pada beberapa masalah seperti sosialisasi yang sangat terbatas, tidak bisa menghadirkan suasana kompetisi, dan belum mampu menggali potensi dalam diri murid diffable. Berbagai perubahan positif yang dialami diffable sebagai hasil dari proses belajar yang dijalaninya, sayangnya seringkali berbenturan dengan keinginan orangtua. Betapapun kerasnya usaha yang dilakukan Tina, proses belajar yang telah berjalan dan yang masih akan berlanjut ini, tidak akan memberikan kemajuan lain pada diri Tina selama orangtua Tina belum terbebas dari pemikiran ’kecacatan = ketidakmampuan’.
Kata Kunci : Pendidikan; Difabel