Efektivitas Bantuan Untuk Pemulihan Mata Pencaharian Pasca Bencana Gempadi Sektor Usaha Kecil dan Menengah Keramik (Studi Kasus di Desa Panjangrejo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY
SARI, Diah Nur Eko, Diah Nur Eko Sari
2007 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)Berbagai model pendekatan pemberian bantuan telah dilakukan oleh berbagai pihak dalam rangka mengatasi dampak bencana yang terjadi di Indonesia, dimana berbagai pendekatan tersebut menghadirkan konsekuensi yang beragam dan dapat dijadikan pelajaran untuk penanggulangan bencana di masa mendatang. Salah satunya adalah dengan menggunakan potensi lokal. Bencana gempa bumi tanggal 27 Mei 2006 yang melanda Propinsi DIY dan Propinsi Jawa Tengah telah menimbulkan dampak bagi sektor usaha kecil dan menengah yang menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Bantul, Propinsi DIY. Sektor usaha kecil dan menengah keramik menjadi fokus penelitian ini. Penelitian dilakukan di daerah Panjangrejo,Kecamatan Pundong yang selain letaknya sangat dekat dengan episentrum gempa, juga merupakan salah satu sentra usaha kecil dan menengah keramik di Yogyakarta yang mengalami kerusakan parah akibat gempa. Berbagai bantuan pasca gempa untuk pemulihan mata pencaharian usaha keramik mengalir ke Kecamatan Pundong, setidaknya tercatat bantuan sebesar Rp 1.923.750.000 dalam bentuk alat berupa tungku, meja putar, dan mesin giling tanah liat dari Departemen Perindustrian serta bantuan yang difasilitasi oleh Yayasan Peningkatan dan Pengembangan Sumberdaya Umat (YP2SU) melalui sumber dana program Early Recovery Assistance BAPPENAS-UNDP didistribusikan di Kecamatan Pundong. Efektivitas dari bantuan tersebut menjadi bahasan utama penelitian ini.Data-data yang ditemukan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar bantuan alat dari Departemen Perindustrian tidak dapat digunakan secara maksimal, bahkan bantuan yang berupa meja putar banyak yang tidak digunakan oleh pengrajin. Ternyata pada prakteknya proses pengadaan bantuan tersebut kurang mengikutsertakan partisipasi masyarakat penerima bantuan,yang salah satunya dikarenakan waktu penyediaan bantuan yang sempit. Melengkapi gambaran bantuan dari Departemen Perindustrian, diambil pula perbandingan dari daerah lain, yaitu sentra usaha keramik di Kasongan. Evaluasi mendalam dari pemerintah dilakukan jauh setelah bantuan diditribusikan, sehingga tindak lanjut yang diambil untuk mengatasi bantuan yang bermasalah juga terlambat. Sedangkan bantuan yang difasilitasi YP2SU sudah lebih banyak melibatkan partisipasi warga, evaluasi dengan kelompok pengrajin juga dilakukan segera setelah bantuan didistribusikan sehingga kekurangan dan manfaat program bantuan dapat diketahui. Berdasarkan penelitian, diambil kesimpulan bahwa bantuan dari Departemen Perindustrian untuk pemulihan mata pencaharian pengrajin keramik di daerah Panjangrejo adalah belum efektif. Dalam rentang waktu proses bantuan yang sama dengan nominal yang lebih kecil,bantuan dari YP2SU sudah menuju ke arah efektif dimana hal ini terkait dengan partisipasi aktif masyarakat penerima bantuan. Saran dari penelitian ini adalah pentingya cetak biru penanganan bencana dimiliki oleh pemerintah dan adanya prioritas sektor-sektor yang harus dibenahi pasca bencana, pentingya partisipasi masyarakat penerima bantuan dan potensi lokal dalam proses pengadaan bantuan, perlunya proese evaluasi yang menyeluruh dan koordinasi yang baik dengan pemerintahan lokal yang ada, sehingga hasil koordinasi tersebut dapat dijadikan sumber evaluasi serta menghindari terjadinya kasus bantuan yang tumpang tindih.
Kata Kunci : Efektivitas; Bantuan Pasca Gempa