Pola Pengasuhan Anak Pada Pasangan Perkawinan Beda Suku (Studi Kasus tentang Pola Pengasuhan Remaja pada Empat Keluarga Perkawinan Batak – Jawa di D. I. Yogyakarta)
RADJAGUKGUK, Selly Ostianavril, Selly Ostianavril Radjagukguk
2007 | Skripsi | SosiologiPerbedaan antar manusia merupakan satu ciri kehidupan sosial yang mendasar dan sangat sukar untuk dipahami. Dalam konteks kehidupan sosial budaya nasional Indonesia yang majemuk, terdapat hubungan individu budaya dengan kelompok budaya yang melingkupinya, serta hubungan suatu kelompok budaya dengan kelompok budaya lain. Melalui keberadaan tersebut, terbentuklah interaksi sosial antar individu budaya, dan bukanlah hal yang mustahil terjadi, dua individu yang berbeda suku dipersatukan dalam bahtera perkawinan. Perbedaan budaya yang ada antara suami dan istri kemudian akan diadaptasikan melalui proses yang panjang, dan diselaraskan melalui sebuah wadah pola pengasuhan anak, di mana perbedaan dipersatukan. Dalam pola pengasuhan anak pada pasangan perkawinan beda suku, sangat dihindarkan terbentuknya kebimbangan pada anak terhadap figur orang tua yang berbeda budaya. Bagaimana bentuk pola pengasuhan pasangan perkawinan beda suku, serta hal- hal apa yang mempengaruhi pasangan tersebut dalam pemilihan pola pengasuhan anaknya, akan dijawab melalui proses penelitian kualitatif dengan metode studi kasus pada empat keluarga perkawinan Batak – Jawa di D. I. Yogyakarta ini Penelitian ini mempergunakan teori pola pengasuhan anak menurut Diana Baumrind dan G. Prasetya Tembong terdiri atas 1) Pola pengasuhan dimana orang tua memaksakan keinginannya tanpa membiarkan anak berpendapat (pola pengasuhan autoritarian); 2) Pola pengasuhan dimana orang tua memberikan kebebasan penuh pada anak untuk mengikuti atau mengabaikan sama sekali perintah dari orang tua (pola pengasuhan permisif); 3) Pola pengasuhan dimana terdapat keseimbangan antara kebebasan berpendapat bagi anak dalam membuat keputusannya sendiri dan juga kewibawaan orang tua untuk memberikan pertimbangan bagi anak serta terdapatnya tuntutan prestasi (pola pengasuhan autoritatif); 4) Pola pengasuhan dimana kepentingan jasmani dan rohani anak tidak diperhatikan sama sekali, dan orang tua memikirkan kepentingannya sendiri (pola pengasuhan penelantar) (Tembong, 2003). Setelah dilakukan proses penelitian, ditemukan bahwa tipe pola pengasuhan autoritatif cenderung menjadi pola pengasuhan dominan daripada ketiga tipe pola pengasuhan lainnya. Kenyataan ini memunculkan keingintahuan peneliti akan alasan yang berada di balik kecenderungan tersebut. Secara garis besar, terdapat dua faktor yang mempengaruhi pasangan perkawinan beda suku tersebut dalam milihannya terhadap pola pengasuhan autoritatif. Yang pertama adalah faktor internal (faktor- faktor yang muncul dari dalam diri manusia dan keluarga), yaitu pengalaman sosial pasangan perkawinan beda suku, kesamaan metode kedisiplinan orang tua dari pasangan perkawinan beda suku, tingkat pendidikan pasangan perkawinan beda suku, dan kondisi ekonomi keluarga. Adapun faktor yang kedua adalah faktor eksternal (faktor- faktor yang berada di luar diri manusia dan keluarga) yaitu tingginya tingkat kriminalitas di lingkungan masyarakat, tekanan dari lingkungan pergaulan anak, proses peniruan terhadap figur keluarga lain, stereotip negatif anak akan budaya, dan proses belajar sosial melalui media massa.
Kata Kunci : Pengasuhan Anak