Relasi Penguasa dan Pengusaha Tionghoa 1950 - 1975 (Analisis Wacana Pribumi dan Non-Pribumi)
SIAHAAN, Yosephtri Yoshua PP, YOSEPHTRI YOSUA P P SIAHAAN
2007 | Skripsi | SosiologiOrde Lama dan Orde Baru adalah suatu periodesasi yang sangat menarik untuk dikaji karena menyisakan narasi-narasi yang terbuka untuk ditangkap dan diterjemahkan diluar kebakuan dan kebekuan penulisan sejarah. Kedua orde tersebut meninggalkan sedimentasi sejarah ide yang terus-menerus direproduksi sebagai syarat eksis relasi-relasi kekuasaan. Salah satu lapisan sedimentasi yang menjadi perhatian tulisan ini adalah wacana pribumi dan pribumi yang senatiasa hadir dalam proses penandaan masyarakat akan dirinya dan orang lain. Wacana tersebut bekerja, termodifikasi untuk suatu tujuan yang dalam bahasa Nietzsche, kehendak untuk kuasa. Wacana diproduksi untuk bertujuan penundukan. Pribumi menjadi suatu mitos yang bertujuan lebih dari sekedar mengidentifikasi keaslian, namun juga untuk tujuan penaklukan. Supremasi pribumi terkodifikasi dalam kebijakan-kebijakan institusional yang memang memiliki akar fasis. Atas nama orisinalitas, maka sentimen hingga penyerangan-penyerangan atas pihak yang disebut non-pribumi menjadi pantas. Pembiaran oleh kekuasaan merupakan bagian mempertegas kepribumian, wacana yang bukan hanya dimiliki oleh kekuasaan namun juga diresapi dan dipelihara oleh masyarakat. Dalam periode 1950-1975 terjadi diskontinuitas dan kontinuitas. Diskontinuitas tersebut berupa perubahan rejim, personifikasi dan karakteristik kekuasaan. Kontinuitas dalam periode tersebut berupa keberlanjutan rujukan kekuasaan atas wacana pribumi dan non-pribumi dalam membangun strategi kekuasaan termasuk instrumen teknis seperti regulasi. Kontinuitas merujuk wacana tersebut bertujuan untuk mendisiplinkan ikatan primordial dan dimobilisir untuk terintegrasi dalam negara dalam kacamata nasionalisme dan kebangsaan yang belum selesai. Pengusaha Tionghoa dalam relasi kekuasaan juga merujuk pada wacana tersebut dan melakukan reposisi dalam relasi tersebut. Sehingga membentuk karakteristik dan model relasi yang khas dalam hubungan dengan penguasa.
Kata Kunci : Minoritas Etnik