Laporkan Masalah

Bedhaya dan Representasi Kekuasaan Raja Analisis Semiotik Representasi Kekuasaan Raja Jawa dalam Tari Bedhaya Sumreg Kraton Yogyakarta

DESI, Yolanda Presiana, Yolanda Presiana Desi

2007 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

Sebuah media akan memberikan pengertian tentang keadaan masyarakat dan budaya yang ada di sekitarnya, terlebih jika media tersebut merupakan media yang mengakar kuat dalam tradisi masyarakat tempatnya berasal dan berkembang. Tari merupakan produk budaya. Tari sebagai suatu karya seni merupakan ekspresi perasaan yang dalam dari diri manusia dan kemudian diubah oleh imajinasi untuk diwujudkan maupun diekspresikan melalui media gerak. Sebagai praktek sosial, tari dilihat sebagai media komunikasi yang beroperasi dalam masyarakat. Dalam hal ini tari dimaknai bukan sebagai ekspresi seni koreografernya, tetapi melibatkan interaksi yang kompleks dan dinamis dari elemen-elemen masyarakat pendukungnya. Untuk meneliti fenomena diatas, penulis memilih tari Bedhaya Sumreg sebagai objek penelitian. Melalui penelitian yang berjudul BEDHAYA DAN REPRESENTASI KEKUASAAN RAJA: Analisis Semiotik Representasi Kekuasaan Raja Jawa dalam Tari Bedhaya Sumreg Kraton Yogyakarta diharapkan dapat menjawab pertanyaan: Bagaimana kekuasaan raja Jawa direpresentasikan dalam tari Bedhaya Sumreg Kraton Yogyakarta. Melalui metode semiotik Roland Barthes dan prinsip intertekstualitas, analisis dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa komponen-komponen artistik tari yaitu gerak, pola lantai, dan iringan. Unit analisis berupa kekuasaan raja Jawa yang dikategorikan dalam relasi kekuasaan (power relations) dengan sub kategori internal: relasi kawula-gusti dan eksternal: relasi sesama raja antara raja Kraton Yogyakarta dan raja Kraton Surakarta. Tari Bedhaya Sumreg sebagai salah satu varian dari tari bergenre bedhaya merupakan salah satu media yang menyebarluaskan suatu ide yang berakar pada suatu kepentingan dan dan tujuan tertentu. Tari pada jaman kerajaan mengandung isi ritual,mistis, dan psedo-ritual yang menghasilkan efek/norma kepatuhan kepada yang berkuasa. Kepatuhan dan dukungan tersebut diperlukan guna mewujudkan tujuan kekuasaan. Tari bedhaya diatur sedemikian rupa sehingga tidak hanya menjadi sebuah komoditas seni yang bersifat pertunjukan dan hiburan semata tetapi juga sebagai sebuah media penyampaian pesan yang melegitimasikan kekuasaan raja Jawa. Kehadiran tari Bedhaya Sumreg dengan segala pola pikiran, ide, nilai, maupun norma norma yang terdapat dalam tarian itu, eksistensinya dibentuk oleh ciri masyarakat penciptanya yaitu masyarakat istana (kraton); baik menyangkut stratifikasi sosialnya,kekerabatan, ideologi yang kesemuanya mencerminkan kepatuhan kepada raja dan merupakan tanda pengukuhan legitimasi raja Kraton Yogyakarta.

Kata Kunci : Tari; Budaya Jawa: Kuasa Raja


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.