Transformasi Strategi Gerakan Petani: Dari Gerakan Bawah Tanah Menuju Gerakan Politik Formal Studi Kasus Gerakan Petani Forum Perjuangan Petani Batang (FPPB), Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah
KAMAJAYA, Rizza, Rizza Kamajaya
2007 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)Pasca jatuhnya rezim otoritarian otoritarian orde baru, konstelasi politik di Indonesia diwarnai dengan munculnya berbagai organisasi rakyat dalam berbagai sektor, seperti buruh, nelayan, kaum miskin kota dan tentunya petani. Partisipasi politik yang macet selama kurun waktu 32 tahun telah menemukan momentum kebangkitannya. Dalam hal ini kehadiran organisasi rakyat tersebut dapat dimaknai sebagai sebuah bentuk aktualisasi gerakan bawah tanah yang hidup secara sembunyi-sembunyi sewaktu rezim orde baru berkuasa. Gerakan Petani Batang menjadi salah satu kasus yang muncul di era transisi demokrasi. Melalui sebuah wadah kolektif perjuangan yang bernama Forum Perjuangan Petani Batang atau disingkat FPPB para petani Batang berusaha mengambilalih kembali tanah mereka yang diakusisi negara segera setelah rezim orde baru berkuasa. Strategi reclaiming menjadi sebuah titik tolak petani untuk mewujudkan cita-citanya tersebut. Strategi reclaiming ini sendiri dikemudian hari diterjemahkan sebagai upaya pendudukan lahan-lahan perkebunan milik swasta maupun negara secara sepihak. Seiring perkembangan jumlah Organisasi Tani Lokal yang tergabung di FPPB, strategi gerakan organisasi berkembang pula kearah aksi-aksi demonstrasi yang melibatkan belasan ribu massa anggotanya. Tak berhenti sampai disitu, upaya untuk menyelesaikan kasus sengketa tanah petani diwujudkan pula dalam bentuk-bentuk negoisasi secara langsung dengan otoritas pemerintahan. Baik strategi reclaiming, aksi demonstrasi, maupun negoisasi-negoisasi kesemuanya diarahkan kepada satu tujuan yaitu penyelesaian kasus sengketa tanah yang berakhir pada pemilikan tanah oleh petani, secara de facto maupun de jure. Namun demikian selama kurun waktu tujuh tahun organisasi itu berdiri, selama itu pulalah strategi gerakan tersebut tidak mampu memenuhi amanat organisasi sebagai suatu strategi solutif. Ditengah harapan yang hampir sirna inilah, gerakan ini mampu memunculkan sebuah kritik oto kritik sebagai sebuah upaya evaluasi gerakan yang kemudian bergulir menjadi dinamika gerakan petani Batang. Dinamika ini kemudian berproses menjadi sebuah gelombang transformasi ditingkatan internal organisasi. Bagi Forum Perjuangan Petani Batang, transformasi ini kemudian termanifesto dalam sebuah skema gerakan politik formal. Gerakan yang nantinya berusaha merebut kepemimpinanppolitik pemerintahan ditingkatan lokal, baik dari lembaga eksekutif mulai dari pemerintahan desa hingga pemerintahan kabupaten maupun lembaga legislatif yang dalam hal ini adalah DPRD Kabupaten. Peranan baru yang dimainkan organisasi ini tak lain dan tak bukan diorientasikan sebagai sebuah usaha untuk merepresentasikan kepentingan petani dalam struktur pemerintahan yang dengan sendirinya juga akan terakomodir dalam produk-produk kebijakan pemerintahan. Dengan terakomodirnya kepentingan petani dalam kebijakan pemerintah, diharapkan menjadi satu titik tolak begi penyelesaian secara tuntas kasus sengketa tanah petani anggota FPPB.
Kata Kunci : Gerakan Politik; Petani