Manajemen Bencana Berbasis Komunitas di Kawasan Rawan Bahaya Gunung Merapi (Penelitian di Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta)
CHUSNA, Zulfa, Zulfa Chusna
2007 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)Bencana merupakan akibat kolektif, perpaduan komponen ancaman dan kerentanan secara bersama-sama di suatu wilayah. Artinya bencana terjadi apabila kapasitas komunitas lebih rendah dari tingkat ancaman. Salah satu bencana yang secara periodik terjadi di Yogyakarta adalah erupsi Gunung Merapi, yang tidak dapat dicegah dan tidak mungkin dihilangkan sama sekali. Risiko suatu kawasan yang rentan terhadap bahaya erupsi Gunung Merapi dapat terlihat dari posisinya terhadap puncak Gunung Merapi, seperti yang terjadi di Dusun Turgo yang pada tahun 1994, erupsi Gunung Merapi telah memakan korban sebanyak 64 orang dan kerusakan fisik lainnya. Penanganan bencana yang terjadi di Indonesia cenderung menggunakan pendekatan eksternal yang menempatkan masyarakat sebagai obyek. Manajemen bencana pada daerah rawan Gunung Merapi masih terdapat benturan-benturan persepsi antara masyarakat lokal dengan pemerintah, sehingga seringkali terjadi kendala-kendala dalam penerapan manajemen bencana. Pada dasarnya, dalam mengatasi bencana Gunung Merapi diperlukan suatu kesadaran dari seluruh masyarakat, khususnya melalui pemahaman dan pengalaman masyarakat mengenai watak Gunung Merapi dan disertai dengan teknologi yang handal. Upaya penanggulangan bencana pada dasarnya akan lebih efektif apabila manajemen bencana dilaksanakan dengan basis komunitas. Penanganan bencana erupsi Gunung Merapi mulai dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat Dusun Turgo yang didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman masyarakat Turgo sendiri. Perkembagannya pada tahun 2002 manajemen bencana berbasis komunitas mulai dilaksanakan dengan dibantu pemerintah daerah setempat sebagai fasilitator. Penelitian ini mencoba memfokuskan permasalahan tentang bagaimanakah proses perkembangan dan penerapan manajemen bencana berbasis komunitas di Dusun Turgo dalam mengantisipasi erupsi Gunung Merapi. Untuk mengetahui hal itu digunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive atau bertujuan. Informan yang diambil berjumlah 8 orang, 6 orang masyarakat Dusun Turgo dan 2 orang dari pihak pemerintah/instansi terkait. Teknik pengumpulan data dilakukan pada data primer yang didapat dari observasi non partisipasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian dilakukan di Dusun Turgo karena Dusun Turgo merupakan salah satu dusun yang melopori/antusias dalam menerapkan manajemen bencana berbasis komunitas bagi dusun-dusun lain yang berada di sekitar daerah rawan bahaya Gunung Merapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan manajemen bencana berbasis komunitas di Dusun Turgo dalam mengantisipasi erupsi Gunung Merapi sudah mengalami perkembangan dari tahun ke tahun, misalnya secara swadaya masyarakat Dusun Turgo telah mendirikan bangunan-bangunan sebagai tempat pengevakuasian masyarakat sementara meskipun bangunan yang didirikan masih sederhana, pembentukan paguyuban Kawastu, mendirikan pos-pos pemantauan Gunung Merapi, pembangunan jalan untuk pengevakuasian penduduk, dan sebagainya. Penerapan manajemen bencana berbasis komunitas di Dusun Turgo ini telah diakui oleh pemerintah sebagai suatu manajemen bencana yang didasarkan atas kreativitas dan kemandirian masyarakat Dusun Turgo sendiri dan pemerintah pun telah bekerjasama dengan masyarakat Dusun Turgo dalam pelatihan anggota Kawastu, merenovasi bangunan bungker dan tempat evakuasi sementara yang berguna sebagai tempat berlindung sementara bagi masyarakat Dusun Turgo dari bahaya erupsi Gunung Merapi.
Kata Kunci : Manajemen Bencana