Strategi Gerakan Tim Advokasi Arus Bawah Taabah Memperjuangkan Hak-hak Kaum Miskin Kota Yogyakarta
NURVITRA, Haning, Haning Nurvitra
2007 | Skripsi | Ilmu Hubungan InternasionalReformasi 1998, yang ditandai dengan lengsernya rezim otoritarian Soeharto, merupakan momentum kelahiran fase transisi demokrasi. Rontoknya sendi – sendi pemerintahan Orde Baru adalah angin segar bagi kehidupan politik, ekonomi dan sosial bangsa Indonesia. Dimana, transisi demokrasi yang berlangsung disebagian Negara Dunia Ketiga ini diikuti dengan terbukanya ruang-ruang berorganisasi yang selama ini telah dikebiri oleh rezim penindas. Liberalisme politik dan ekonomi pun tak urung diterapkan juga di Indonesia. Tak heran jika ini menjadi lahan yang subur bagi berlangsungnya proses demokratisasi. Partai politik dan masyarakat sipil merayakan kebebasannya. Organisasi rakyat tumbuh subur, menjamur tak terbilang. Konteks sosial politik demikian, ternyata mendapat respon dari sekelompok kaum jalanan, yang merupakan bagian dari kaum miskin perkotaan di Yogyakarta. Tepatnya pada tahun 2002, lahirlah TAABAH (Tim Advokasi Arus Bawah), gerakan sosial yang dimotori oleh sejumlah pengamen di Yogyakarta. Saat itu elemen organisasi kaum jalanan yang ada, yaitu KOMPE (Komunitas Media Pemuda dan Miskin Kota), KOMA (Kolektif Marginal) dan SPOER (Seni Perlawanan Oleh Rakyat), meleburkan diri menjadi satu dalam TAABAH. Adapun embrio gerakan ini sebenarnya telah dirintis pada akhir masa pemerintahan Suharto, tahun 1997 silam. Kelahiran gerakan sosial ini tak lepas dari kekecewaan kaum jalanan terhadap dominasi negara, yang memarginalkan keberadan mereka. Melalui kebijakan tata kota dan penertiban, tindakan penggusuran dan penggarukan dilakukan oleh pemerintah. Sehingga sebagai jawaban maka diperlukan pengampu bagi kaum jalanan ini, dan TAABAH mengambil peran itu. Seiring perjalanan transisi demokrasi di Indonesia, perjalanan TAABAH pun berlangsung hingga sekarang. Dan ini menjadi menarik untuk diteliti, khususnya terkait dengan strategi gerakan sosial ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Dengan pengambilan data melalui observasi, wawancara,mendalam dan studi dokumentasi. Organisasi TAABAH merupakan unit analisisnya. Sehingga aktor-aktor gerakan yang terlibat di dalamnya akan dipandang sebagai bagian dari kelompok TAABAH ini. Hasil penelitian ini disampaikan dalam bentuk deskriptif eksplanatif yaitu berupa deskripsi mengenai strategi dengan dinamika perjalanan TAABAH ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TAABAH adalah gerakan sosial kaum jalanan yang merupakan bagian dari sektor kaum miskin kota. Kelahiran gerakan TAABAH sendiri didasari oleh kekecewaan mereka terhadap sistem politik dan sistem ekonomi yang tidak berpihak kepadanya. Ditambah lagi, TAABAH merasa kaum jalanan tidak diakui keberadaannya oleh negara dan masyarakat karena ketiadaan KTP (Kartu Tanda Penduduk) sebagai bukti kewarganegaraan. TAABAH sebagai organisasi kaum jalanan mengekspresikan protesnya melalui unjuk rasa, dengar pendapat dengan pemerintah (public hearing) maupun tampilan seni jalanan. Bahkan guna menggalang solidaritas gerakan sosial lainnya, TAABAH juga melakukan perluasan jaringan baik ditingkat lokal maupun nasional. Strategi utama yang dilakukan oleh TAABAH meliputi beberapa hal yaitu melalui pengorganisasian massa, melakukan pemilihan isu dan advokasi non ligitasi, melakukan aliansi dengan sejumlah organisasi gerakan lain, menentukan media propaganda serta mengupayakan pendanaan organisasi.
Kata Kunci : Gerakan Sosial; Kaum Miskin Kota