Laporkan Masalah

Peran Modal Sosial dalam Rekonstruksi Pasca Gempa (Studi Kasus Pada Pokmas Gancahan VI 001, Dusun Gancahan VI, Desa Sidomulyo, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Yogyakarta)

MARADONA, Dedy, Dedy Maradona

2007 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)

Dalam perspektif modal sosial, bencana alam terkadang justru memberikan kesempatan (dalam makna yang positif) kepada pemerintah dan masyarakat untuk membangun modal sosial sekaligus memanfaatkan modal sosial itu dalam penanganan bencana. Bagi pemerintah, terjadinya bencana menjadi celah untuk menjalin sinergi dan berkolaborasi dengan masyarakat ataupun para stake-holders lainnya melalui kebijakan penanganan bencana yang tanggap, tuntas dan terarah. Sederhananya, dengan kejadian bencana alam pemerintah memiliki momentum untuk membangun modal sosial vertikal (linking social capital) ataupun sekedar menguji –jika memang ada- modal sosial vertikal yang ada pada relasinya dengan masyarakat. Bagi masyarakat sendiri, kejadian bencana alam juga menjadi pembuktian akan eksistensi modal sosial yang dimilikinya selama ini. Kohesivitas internal masyarakat dan kuatnya jaringan dengan masyarakat lain di luar komunitas inti, yang dalam konteks modal sosial dimaknai sebagai modal sosial horisontal (bonding dan bridging social capital), akan diuji keampuhannya dalam memberikan penanganan dan pemulihan pasca bencana. Mencermati apa yang terjadi pasca bencana gempa bumi di Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006 silam, Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta juga berusaha untuk membangun modal sosial vertikalnya dengan cara menghadirkan Pokmas (kelompok masyarakat) dalam masa rekonstruksi. Diharapkan dengan adanya pokmas yang mengusung konsep partisipasi aktif masyarakat, tercipta ruang bagi pemerintah untuk bisa bersinergi dengan masyarakat. Karena secara konsep, masyarakat tidak lagi dianggap hanya sebagai korban pasif, namun dipercaya sebagai aktor dan partner pemerintah dalam proses pemulihan Yogyakarta. Kepercayaan itu sendiri sebenarnya buah dari bekerjanya modal sosial dalam masyarakat Yogyakarta, bonding dan bridging social capital. Bekerjanya bonding social capital dapat kita lihat dari geliat bangkit berbenah (self-help) yang diperagakan oleh masyarakat Yogyakarta dari tingkat RT, RW, Dusun hingga Desa sesaat setelah terjadinya bencana. Sementara peran dari bridging social capital menjelma ke dalam aksi solidaritas warga sekitar yang meskipun juga sebagai korban gempa namun dengan inisiatif sendiri memobilisasi modal sosial yang mereka punya ke daerah-daerah yang lebih parah kondisi kerusakannya. Begitu pula dengan keberadaan LSM, NGOs, Yayasan, Paguyuban, dll, yang turut berkontribusi dalam memberikan penanganan awal pasca bencana. Oleh karena itu, kehadiran pokmas secara konsep penting dimaknai sebagai pengerucutan modal sosial yang ada dalam masyarakat Yogyakarta. Dengan kata lain pokmas hadir untuk memanfaatkan modal sosial masyarakat dalam proses rekonstruksi rumah pasca gempa.

Kata Kunci : Modal Sosial; Rekonstruksi; Gempa


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.