Produktivitas Dan Motivasi Pekerja Perempuan : Studi Kasus di PT.Yogjakarta Tembakau Indonesia,
NOVITASARI, fitri, Fitri Novitasari, Purwanto
2007 | Skripsi | SosiologiPeningkatan jumlah tenaga kerja perempuan di sektor industri merupakan konsekuensi dari pergeseran komposisi lapangan pekerjaan perempuan di Indonesia yang terjadi sejak dekade terakhir ini. Pergeseran itu tampak bergerak dari lapangan pekerjaan sektor primer ke lapangan pekerjaan sektor sekunder dan tersier. ada beberapa alasan yang melatarbelakangi perempuan meninggalkan pekerjaan di sector primer (pertanian), antara lain: penghasilan yang diperoleh kecil dan tidak teratur, tempat kerja yang kotor dan panas, tidak banyak memiliki teman kerja, bekerja di sektor pertanian dianggap tidak memiliki gengsi atau kedudukan yang tinggi di dalam masyarakat. Sebagai akibat dari keadaan tersebut menyebabkan banyak tenaga kerja perempuan yang beralih pekerjaan ke sektor-sektor yang lain. Salah satunya adalah beralih pekerjaan ke sektor industri. Sektor industri telah menjadi salah satu alternatif bagi perempuan yang tidak lagi bekerja di sektor pertanian dan tidak tertampung di sektor pedagangan dan jasa. Dengan pembangunan industri yang cukup pesat beberapa tahun terakhir ini, terutama di daerah perkotaan dan pinggiran kota telah membuka peluang kerja yang semakin luas bagi tidak hanya bagi laki-laki tetapi juga perempuan. Bahkan peluang kerja di sektor industri semakin terbuka bagi perempuan manakala perusahaan industri menyaratkan unsur ketelatenan dan ketekunan pada pekerjaan yang ditawarkan. Misalnya pada industri elektonika, kosmetika, rokok, konveksi, dan berbagai industri rumah tangga lain. Oleh karenanya penelitian ini difokuskan pada pekerja perempuan, objek penelitian ini adalah pekerja perempuan di PT.YTI. Penelitian ini termasuk jenis penelitian survey, dengan jumlah populasi 90 orang, sedangkan sampel ditetapkan 73 orang yang penentuannya dilakukan secara disproposional random sampling dengan menggunakan formula Krejcie & Morgan. Dalam penelitian ini menggunakan lima variabel yaitu produktivitas kerja (variabel dependen); motivasi kerja (variabel intervening); interaksi yang terjalin dalam lingkungan kerja; status sosial ekonomi; dan imbalan yang diberikan perusahaan kepada pekerja (variabel independent). Pengolahan dan analisa data dikerjakan menggunakan statistic deskriptif dan inferesial dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan, Imbalan yang diberikan perusahaan kepada pekerja, merupakan faktor yang paling mempengaruhi motivasi dan produktivitas kerja responden. Hal ini ditunjukkan dari pernyataan sebagian besar responden yang setuju bahwa imbalan ekonomi maupun imbalan non ekonomi yang diberikan perusahaan sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga. Dengan adanya imbalan yang besar secara otomatis pekerja akan termotivasi untuk meningkatkan produktivitas kerjanya dalam menghasilkan barang produksi, sehingga upah yang mereka terima semakin besar. 16 Interaksi yang terjalin dalam lingkungan kerja berpengaruh pada motivasi dan produktivitas kerja responden. Ini ditunjukkan dari kuantitas dan kualitas interaksi yang terjalin antara responden dengan teman kerja dan atasan berjalan dengan baik dan intens, maksudnya responden tidak hanya saling menyapa atau mengobrol saja dengan teman kerja maupun atasan, namun mereka juga seringkali bertukar fikiran dalam berbagai hal baik soal pekerjaan ataupun masalah pribadi dengan teman kerja. Sedangkan dengan atasan dilibatkannya responden dalam setiap pertemuan kerja dan diberikannya petunjuk dan bimbingan dari atasan membuat pekerja termotivasi tinggi untuk meningkatkan produktivitas kerjanya. Hasil penelitian ini juga menunjukkan motivasi kerja responden berpengaruh pada produktivitas kerjanya. Ini karenakan produktivitas kerja setiap pekerja perempuan selalu dipengaruhi oleh alasan dan motif-motif yang melatarbelakangi mereka untuk bekerja, motif-motif tersebut menimbulkan semangat atau dorongan kerja bagi setiap pekerja. Pekerja yang memiliki motivasi bekerja tinggi cenderung selalu berusaha untuk memenuhi berbagai kebutuhan-kebutuhan hidupnya sehingga ia selalu berusaha untuk meningkatkan produktivitas kerjanya demi memperoleh hasil yang maksimal dan mencapai tujuan yang diharapkannya.Namun status sosial ekonomi baik dari unit analisa rumah tangga dan individu tidak menunjukkan berpengaruh pada motivasi dan produktivitas kerja responden. Hal ini dikarenakan sebagian besar responden berasal dari status sosial ekonomi rumah tangga menengah, sedangkan status sosial ekonomi responden cenderung tinggi. Hal ini disebabkan oleh keadaan negara kita, dimana harga barang-barang yang serba mahal dan sulit dijangkau, sehingga memaksa setiap anggota rumah tangga atau individ baik dari status sosial ekonomi rendah, menengah maupun tinggi untuk masuk dalam organisasi kerja demi memenuhi kebutuhan hidup. Jadi tidak hanya responden yang berasal dari status sosial ekonomi rendah saja yang memiliki motivasi dan produktivitas kerja tinggi.
Kata Kunci : Gender