Pemuda dan Pembangunan Masyarakat Desa Studi Perkumpulan Pemuda di Dukuh Bumiharjo Desa Bumiharjo Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten
PERDANA, Rachmad Putera, Rachmad Putera Perdana, Drs. Pratikno, M.Soc.Sc, Ph.D
2007 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)Hingga saat ini, masalah kemiskinan masih menjadi sebuah permasalahan yang harus diperhatikan. Tidak hanya bagi mereka yang tinggal diperkotaan, namun lebih jauh lagi bagi mereka yang tinggal di daerah pedesaan. Pola pembangunan sentralistik pada masa Orde Baru yang berpandangan bahwa pemecahan masalah kemiskinan hanya akan menjadi efek dari rembesan kebawah (trickle down effect) terbukti tidak berhasil. Penggunaan strategi pembangunan negara yang sentralistik, korporatis, dan uniform pada akhirnya hanya menimbulkan bentuk-bentuk ‘resistensi’ dari masyarakat level akar rumput. Disinilah kajian ini mengambil posisi untuk mengedepankan kapasitas masyarakat lokal dalam mengurus kehidupannya sendiri dengan memanfaatkan institusi lokal masyarakat itu sendiri, dalam hal ini adalah Perkumpulan Pemuda di Dukuh Bumiharjo, Desa Bumiharjo, Kecamatan Kemalang, Klaten. Adanya realitas ini kemudian yang mendorong penulis untuk mencari tahu dan kemudian mencari jawaban dari pertanyaan utama di dalam kajian ini, yaitu: Bagaimana paguyuban yang digerakkan oleh pemuda (Perkumpulan Pemuda) di Dukuh Bumiharjo dapat terbentuk, tetap bertahan, dan berperan dalam pembangunan masyarakat desa ditengah-tengah gencarnya penetrasi budaya modernisasi di Indonesia?. Terbentuknya paguyuban pemuda seperti ini di Bumiharjo dapat dikatakan merupakan bagian dari efek ‘resistensi’ masyarakat terhadap strategi korporatisme negara bagi golongan pemuda dalam hal ini organisasi karang taruna. Organisasi ini bisa dikatakan tidak dapat berjalan sebagaimana seharusnya. Ini terjadi lebih banyak disebabkan karena sifatnya yang ekslusif bagi golongan pemuda padahal golongan ini belum mampu untuk ‘mandiri’ ditambah kehidupan bermasyarakat yang belum cukup kondusif bagi kelompok pemuda pada masa itu. Sistem keanggotaan inklusif yang digunakan oleh Perkumpulan Pemuda kemudian dapat dikatakan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan paguyuban ini dapat bertahan ditengah-tengah masyarakat. Sistem keanggotaan dalam paguyuban ini memungkinkan golongan sepuh untuk ikut serta di dalamnya. Hal ini mengakibatkan proses ‘pembinaan’ dapat tetap berjalan. Cara ini juga menimbulkan efek pergeseran dalam budaya Jawa, dimana seharusnya orang tua menjadi tumpuan utama. Namun faktanya yang paling banyak berperan di dalam paguyuban ini adalah kelompok pemudanya, sedangkan golongan ‘orang tua’ cukup berperan sebagai pembimbing. Kemudian dalam perjalanannya, paguyuban ini menjadi tumpuan usaha masyarakat dalam memajukan kehidupannya dengan memecahkan persoalan-persoalan yang mereka hadapi di masyarakat secara mandiri. Berperan sebagai institusi intermediary baik antar sesama warga masyarakat maupun antara masyarakat setempat dengan masyarakat luar desa menjadi salah satu peran penting yang dijalankan oleh paguyuban ini. Disamping itu ia juga berperan dalam meringankan beban ekonomi warga dengan menyediakan kesempatan untuk pinjaman dan juga sistem arisan warga. Paguyuban ini juga menjadi satu-satunya institusi warga yang memiliki ‘legalitas’ dalam memobilisasi warga, terutama golongan pemuda untuk menjalankan kegiatan yang sudah direncanakan. Dan yang terakhir, ia juga berperan sebagai oposisi bagi pemerintahan desa dalam artian mengambil posisi untuk mengawasi jalannya roda pemerintahan. Berbagai peran yang dapat dilakukannya menjadikan paguyuban ini sebagai salah satu tumpuan warga untuk maju. Tinggal bagaimana respon yang dapat diberikan oleh pemerintah untuk melihat hal ini sebagai sebuah peluang untuk menjadikan warga masyarakat sebagai partner kerja yang benar-benar dapat diandalkan dalam usaha pembangunan masyarakat desa. Reformasi birokrasi menjadi salah satu usaha pertama yang dapat dilakukan untuk menjawab tantangan ini.
Kata Kunci : Pembangunan Masyarakat: Pemuda