Alienasi Masyarakat Petani dalam Struktur Masyarakat Pedesaan Studi Kasus Kegiatan Tambang Golongan C di Lahan Pertanian Desa Sendangsari Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman
KURNIAWATI, Rokhmi, Rokhmi Kurniawati
2007 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)Permasalahan tanah senantiasa menjadi persoalan krusial yang muncul dalam kehidupan masyarakat. Nafsu manusia untuk memanfaatkan alam dalam memenuhi kebutuhannya semakin lama semakin tidak terkontrol sehingga banyak terjadi degradasi lingkungan akibat ulah manusia sendiri. Upaya mengeksploitasi alam itu tidak jarang menyebabkan perubahan fungsi tanah atau lahan. Lahan yang semula adalah lahan pertanian sebagai sentra produksi pangan mulai terkonversi menjadi lahan pertambangan. Fenomena seperti inilah yang terjadi di Desa Sendangsari padahal pada hakekatnya pertanian merupakan mata pencaharian utama bagi penduduk. Petani dalam struktur masyarakat yang tersusun vertikal selama ini diidentikkan sebagai masyarakat kelas bawah yang tidak berdaya. Ketidakberdayaan tersebut juga muncul di kalangan masyarakat Desa Sendangsari dimana mereka tidak berdaya menghadapi kegiatan pertambangan golongan C yang dilakukan di lahan pertanian mereka. Fenomena yang terjadi di kalangan masyarakat petani di Desa Sendangsari sangatlah kompleks, karenanya untuk bisa memahami fenomena secara menyeluruh dan mendalam digunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik deskriptif analitis. Informan dipilih dengan teknik purposive dan snowball. Sumber data tidak hanya dipilih dari kalangan petani semata, melainkan juga dari aparat pemerintah di tingkat Desa, Kepala Dusun, tokoh masyarakat, dan pengurus kelompok pekerja tambang. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan informan serta berasal dari data sekunder berupa dokumen. Untuk selanjutnya, data dianalisis dalam tiga tahap yaitu: reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan. Kegiatan tambang golongan C yang dilakukan memang sangat dilematik. Di satu sisi masyarakat diuntungkan dengan semakin terbukanya kesempatan kerja, namun keuntungan yang sedikit itu harus ditebus dengan dampak negatif yang sangat beragam. Dari aspek sosial, kerugian itu terjadi dalam bentuk perubahan gaya hidup masyarakat,munculnya konflik-konflik sosial sampai terjadinya kesenjangan sosial yang sangat mencolok diantara warga. Sementara itu dampak dari aspek lingkungan adalah terjadinya kerusakan lahan pertanian. Meskipun dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan tambang telah nyata dirasakan, petani tetap saja menjual lahan pertanian mereka, dan ini dilakukan karena terpaksa. Dalam pelaksanaan penambangan juga terjadi inkonsistensi antara dokumen perijinan yang diberikan pemerintah dengan pelaksanaan di lapangan. Menghadapi inkonsistensi ini pun petani juga tidak berdaya. Berbagai bentuk ketidakberdayaan yang dialami masyarakat petani di Desa Sendangsari terjadi dalam beberapa bentuk, yaitu: pertama, ketidakberdayaan dalam mempengaruhi proses pembuatan keputusan; kedua,ketidakberdayaan terhadap tekanan lingkungan; serta ketiga, ketidakberdayaan dalam aspek ekonomi. Faktor-faktor penyebab ketidakberdayaan tersebut dapat dianalisis dalam faktor sosial terdiri dari lemahnya solidaritas sosial masyarakat petani itu sendiri serta tidak adanya tokoh yang berani tampil mempelopori, faktor politik, faktor ekonomi dan faktor budaya. Ketidakberdayaan merupakan salah satu dimensi keterasingan. Konsep alienasi dipahami sebagai suatu keadaan yang `asing` karena adanya pengaruh yang bersifat obyektif dan eksternal yang memaksa individu. Berbagai bentuk alienasi tersebut dapat dipahami dalam berbagai bentuk yaitu: alienasi dari pekerjaan, alienasi dari sesama manusia, alienasi dari lingkungan, serta alienasi dari peristiwa dan struktur.
Kata Kunci : Masyarakat Petani