Di Antara Konstruksi Normal dan Cacat (Studi Mengenai Proses Sosialisasi Siswa Tunanetra Dalam Sekolah Inklusi di SMU Muhammadiyah 4 Yogyakarta)
SULISTYONINGSIH, Sulistyoningsih
2006 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)Selama ini pendidikan bagi siswa difabel dilaksanakan secara segregatif, yaitu ditempatkan di suatu sekolah khusus yang sesuai dengan jenis dan derajat ketunaannya. Hal ini paradoks dengan misi dari pendidikan itu sendiri yang bertujuan untuk mengembangkan segenap potensi kemanusiaan (kognitif, psikomotorik, dan afektif) setiap peserta didik hingga derajat yang optimal, sehingga siap dan mampu terjun ke masyarakat yang lebih luas. Untuk itulah pemerintah mulai menggalakkan sekolah inklusi. Sekolah inklusi ialah sekolah yang menyatukan siswa “normal” dengan siswa difabel untuk belajar bersama dalam satu ruang dan tempat yang sama. Selain untuk meningkatkan akses para difabel dalam memperoleh pendidikan, sekolah inklusi juga ditujukan agar anak difabel lebih memiliki rasa percaya diri, mendapatkan pergaulan dan pengalaman yang lebih luas dan sebaliknya, anak-anak “normal” teman sekolahnya akan terdidik dan bisa belajar hidup bertoleransi antar sesama manusia. Dengan demikian, dalam suatu sekolah inklusi siswa difabel mempunyai beberapa masalah dan hambatan dalam melakukan proses sosialisasi ke dalam lingkungan yang didominasi oleh orang-orang “normal”. Selain hambatan dalam beradaptasi dengan kegiatan belajar dan lingkungan fisik yang memang pada awalnya dibangun untuk orang “normal”, siswa difabel juga ditantang untuk dapat “masuk”, membaur dan menyatu ke dalam lingkungan orang-orang “normal”. Proses sosialisasi inilah yang menjadi tema dari penelitian ini. Di sini penulis berusaha menyelami bagaimana para siswa tunanetra di SMU Muhammadiyah 4 Yogyakarta berusaha melakukan sosialisasi ke dalam lingkungan di sekolahnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini menempatkan obyek dalam suatu konteks natural seperti apa adanya. Memandang obyek tidak terbatas pada empiri sensual tapi juga mencakup persepsi, pemikiran, dan keyakinan subyek tentang sesuatu di luar subyek. Dalam hal ini penulis mengedepankan metode observasi dan wawancara untuk mengumpulkan dan menggali data, serta melakukan triangulasi untuk memeriksa keabsahan datanya. Hasil dari seluruh penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Proses sosialisasi siswa tunanetra di SMU Muhammadiyah 4 Yogyakarta terdiri dari berbagai proses yang berjalan beriringan, yaitu proses pengenalan lingkungan baik fisik dan sosial, proses adaptasi dengan kegiatan belajar di sekolah, serta proses pembauran melalui berbagai kegiatan sekolah yang dilakukan bersama-sama. Proses sosialisasi ini dipengaruhi oleh empat hal, yaitu manajemen sekolah inklusi yang dilakukan oleh kepala sekolah, lingkungan sosial dalam sekolah, hambatan-hambatan yang bersifat interen dan eksteren, serta karakter-karakter tertentu pada siswa tunanetra itu sendiri. Proses sosialisasi siswa tunanetra di SMU Muhammadiyah 4 Yogyakarta berjalan dengan baik. Mereka mempunyai banyak teman, dapat membaur, menyatu, dan beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya. Hal ini dikarenakan lebih banyak faktor yang mendukung proses sosialisasi mereka dari pada faktor penghambatnya.
Kata Kunci : Difabel; Pendidikan