Pembagian Kerja Seksual Pada Industri Batik (Studi Tentang Pembagian Kerja Seksual Antara Buruh Perempuan dan Buruh Laki-Laki Pada Industri Batik, di Desa Waru Lor, Kecamatan Wiradesa Pekalo
HASIM, Muchamat, Muchamat Hasim
2006 | Skripsi | Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (dh. Ilmu Sosiatri)Industri batik merupakan industri kecil yang sudah ada sejak dulu di Desa Waru Lor. Secara histori, proses membatik merupakan pekerjaan perempuan, karena pembuatan batik hanya menggunakan canting. Tetapi dengan kemajuan jaman, adanya teknologi pembuatan batik seperti cap, mengakibatkan proses pembuatan batik tidak hanya dilakukan oleh perempuan melainkan laki-laki juga bisa mengerjakannya. Hal ini juga mengakibatkan adanya perbedaan gender dalam pembagian kerja seksual antara perempuan dan laki-laki pada industri batik. Penelitian ini dilakukan di Desa Waru Lor, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan dengan menitikberatkan pada pembagian kerja seksual pada industri batik yaitu pembagian kerja antara buruh laki-laki dan buruh perempuan dan dampak dari adanya pembagian kerja tersebut. Untuk mengkaji fenomena tersebut digunakan teori Feminis Sosial dengan jenis penelitian kualitatif, sedangkan teknik pengumpulan data penulis menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Sebelum menentukan informan, penulis melakukan observasi terhadap lima industri batik, sehingga informan dalam penelitian ini berjumlah delapan orang yang terdiri dari empat buruh perempuan dan empat buruh laki-laki dan proses triangulasi dilakukan terhadap dua juragan batik dan satu pegawai di museum batik Pekalongan. Pengambilan informan berdasarkan jenis kelamin, usia dan lamanya bekerja. Sebagai salah satu industri yang hadir di tengah masyarakat, industri kerajinan batik cukup memberikan kontribusi bagi masyarakat, seperti terbukanya lapangan pekerjaan baru, peningkatan penghasilan dan penyerapan tenaga kerja bagi masyarakat, khususnya bagi generasi muda yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Alasanya adalah karena kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu untuk membiayai sekolah dan lingkungan mereka yang kurang mendukung, semua itu juga karena lingkungan mereka dekat dengan industri batik. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa alasan yang mendasari masyarakat untuk memilih bekerja sebagai buruh batik sebagai mata pencaharian karena bekerja sebagai buruh batik tidak mensyaratkan pendidikan yang tinggi dan karena proses rekrutmen yang mudah sehingga industri batik merupakan alternatif dalam mencari pekerjaan. Pembagian kerja pada industri batik merupakan pembagian kerja yang lebih menekankan pada beban kerja antara buruh laki-laki dan buruh perempuan, sehingga berpengaruh pada jenis-jenis pekerjaan dan pembagian upah yang berbeda pula, khususnya bagi buruh perempuan mengerjakan pekerjaan yang ringan yaitu sebagai pembatik karena perempuan mempunyai sentuhan tangan perempuan lebih halus. Dampak dari pembagian kerja tersebut mengakibatkan buruh perempuan yang mendapatkan upah rendah dibandingkan laki-laki dan termarginalkan, dalam arti jumlah buruh laki-laki lebih banyak dari perempuan. Selain itu dengan adanya intervensi teknologi batik, perempuan lebih tergeser dari pekerjaannya. Intervensi teknologi tersebut, buruh laki-laki mendominasi pekerjaan batik, karena yang seharusnya dikerjakan perempuan bisa dikerjakan oleh laki-laki.
Kata Kunci : Tenaga Kerja; Gender