Ketertarikan dan Pemaknaan Masyarakat Atas Tayangan Televisi Bernuansa Mistis (Studi tentang Ketertarikan dan Pemaknaan Masyarakat atas Tayangan Televisi Bernuansa Mistis di Kecamatan Pakualaman Yogya
NOVENANTO, Antonius, Antonius Novenanto
2005 | Skripsi | SosiologiKemunculan beragam tayangan televisi bernuansa mistis ditengah masyarakat modern merupakan satu fenomena yang patut dicermati. Televisi sebagai media massa tidak hanya berfungsi sebagai alat penghibur saja, namun lebih pada fungsi sosialisasi atau penyampai pesan dan nilai. Ditengah kemajuan zaman yang sarat dengan teknologi dan pemikiran-pemikiran rasional kembali dimunculkan hal-hal irasional. Ilmu pengetahuan seakan dibenturkan pada kenyataan akan ketidakmampuannya membedah hal-hal mistis tersebut. Wajar bila kemudian timbul keresahan ditengah masyarakat modern. Keberadaan tayangan televisi bernuansa mistis tersebut dikhawatirkan membawa dampak yang tidak baik pada masyarakat. Bukan suatu isu yang menarik apabila keresahan tersebut muncul pada masyarakat yang belum mengenal teknologi atau masih terisolir. Keresahan ini justru muncul ditengah masyarakat modern yang sarat dengan rasionalitas, maka diadakan satu penelitian di wilayah kecamatan Pakualaman, yang terletak di kota Jogjakarta, sebagai sampel dari masyarakat yang sudah mencerminkan kehidupan modern. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang mendorong masyarakat perkotaan menyaksikan tayangan televisi bernuansa mistis, dan bagaimana pemaknaan mereka terhadap tayangan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan pendekatan sosiologi interaksionisme simbolik yang didukung dengan paradigma pemirsa aktif dalam tradisi cultural studies untuk mempertajam analisa dalam penelitian ini. Ketertarikan masyarakat pada tayangan televisi bernuansa mistis tersebut didorong oleh beberapa hal, yakni pengaruh lingkungan, kebutuhan akan informasi, dan faktor kemasan acara. Dua hal yang mempengaruhi pemaknaan masyarakat terhadap mistisisme ialah pendidikan dan pengalaman religius. Masyarakat dengan pendidikan yang lebih tinggi akan memberikan definisi yang lebih luas mengenai mistisisme, sementara masyarakat dengan pendidikan yang lebih rendah akan mereduksi mistisisme sebatas pada hantu, jin, setan, tenung, mantra, sesaji dan para dukun. Masyarakat dengan intensitas pengalaman yang tinggi memaknai mistisisme sebagai suatu dunia yang unik dan tidak menakutkan karena mereka mampu memilah dan memilih bagaimana cara berinteraksi dengan dunia mistis supaya tidak berdampak negatif. Masyarakat dengan intensitas pengalaman yang kurang memaknai mistisisme sebagai dunia yang menakutkan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa masyarakat perkotaan tidak menganggap tayangan televisi bernuansa mistis sebagai hal yang menyesatkan namun lebih dimaknai sebagai peringatan supaya masyarakat modern tidak merasa superior dan lebih mawas diri.
Kata Kunci : Televisi; Program Acara