Representasi Seksualitas di Televisi (Analisis Semiotik Program Feature Fenomena di Trans TV)
NOORASTUTI, Pipiet Tri, Pipiet Tri Noorastuti
2006 | Skripsi | Ilmu KomunikasiKompetisi antar media televisi tak dapat dielak lagi. Sejumlah stasiun televisi swasta nasional berlomba-lomba memikat audiensnya dengan berbagai jenis program tayangan yang dianggap trend. Begitu juga ketika sebuah program berbau seks memperoleh rating tinggi, semua stasiun televisi pun berlomba-lomba menanyangkan program seksualitas di layar kaca. Jika perhatian khalayak telah berhasil direbut, hal ini selanjutnya dapat dijual ke pengiklan, yang artinya membawa keuntungan ekonomis bagi organisasi media. Jadi, memang tidak dapat dipungkiri bahwa seks dan semua bentuk serta penggambarannya akan selalu membangkitkan rasa ingin tahu khalayak, dan mendatangkan pengiklan. Berawal dari kepedulian terhadap maraknya materi bermuatan seksual di televisi,maka peneliti bermaksud untuk meneliti bagaimana seksualitas direpresentasikan dalam salah satu tayangan televisi, yakni tayangan Fenomena Trans TV. Acara Fenomena sebagai sebuha feature dipilih karena dianggap mewakili acara-acara yang berbau seks(1), dan merupakan tayangan yang selalu konsisten sejak kemunculannya tiga tahun lalu(2). Seksualitas sebenarnya tidak pernah lepas dari sebuah gambaran tentang bagaimana benturan-benturan nilai sosial terjadi di dalamnya. Penelitian ini hendak melihat bagaimana seksualitas berada dalam konflik (wacana), ketika seksualitas diperbincangkan di area publik melalui sebuah reportase jurnalistik. Dengan demikian, rumusan pertanyaan penelitian adalah “Bagaimana representasi seksualitas sebagai sebuah komoditas dalam tayangan feature Fenomena di Trans TV?” Penelitian ini ingin menjelajahi ruang pemaknaan yang berupa teks di dalam konteksnya, maka peneliti akan melihat representasi seksualitas melalui analisis semiotik yang didasarkan pada pemikiran Roland Barthes. Kajian penelitian ini terletak pada produk audio-visual sebagai sebuah teks. Lebih lanjut, analisis semiotik juga menitikberatkan perhatian pada aspek ‘bagaimana’ dari representasi, yaitu bagaimana bahasa dan penandaan beroperasi dalam memproduksi makna.Untuk keperluan analisis, maka dipilih enam sampel dari objek penelitian, yakni enam episode Fenomena yang dianggap cukup merepresentasikan seksualitas dalam tayangan Fenomena, yakni episode yang telah mengalami re-run atau ditayangkan lebih dari satu kali.Tujuan utama di antara semua tujuan jurnalisme adalah menyediakan informasi yang diperlukan orang agar bebas dan bisa mengatur diri sendiri. Namun dalam kenyataan jurnalisme kontemporer, khususnya televisi, tayangan-tayangan yang berangkat dari sebuah fakta menambahkan unsur ilustrasi agar menambah sensasional visual sehingga lebih dirasa menarik dan menjual. Oleh karena itu penelitian ini juga meneliti pemenuhan sembilan (9) kaidah jurnalisme dalam Fenomena.Memahami jurnalisme populer seperti apa yg disebut Braudy (dalam Kovach and Rosenstiel : 2003) merupakan ‘kiat dagang klasik media dalam upayanya mengubah berita menjadi hiburan dan hiburan menjadi berita’, membutuhkan proses ‘pengupasan’teks sehingga mampu memakai representasi yang terkandung di dalamnya. Keseluruhan makna seksualitas yang direpresentasikan oleh tayangan Fenomena secara umum dapat dikatakan bahwa materi seksualitas dalam tayangan Fenomena yang cenderung vulgar, dapat memberikan efek merangsang imajinasi dan hasrat seksual penontonnya. Analisis atas ‘Seksualitas sebagai Representasi Tanda’ menghasilkan pengelompokan, yakni : (1) Seksualitas sebagai Medium Objektifikasi (Perempuan sebagai Objek Hasrat) dan Objek Tatapan Laki-laki; (2) Seksualitas sebagai Hubungan Seksual yang Rekreatif; (3) Seksualitas sebagai Medium Ekspresi Kebebasan Individu;(4) Seksualitas sebagai Medium Pengelabuan Media; (5) Seksualitas sebagai Seduksi Penelitian ini menemukan bahwa Elemen Tanda seksualitas yang banyak digunakan dalam tayangan Fenomena adalah : (1) Tubuh Perempuan; (2) Hubungan Seksual; (3) Ranjang; (4) Tempat Hiburan Malam; (5) Pakaian; (6) Penanda Tubuh : Suara, Gerak Badan.Kecenderungan tema dalam Fenomena, adalag sebagai berikut : (1) Seksualitas sebagai Gaya Hidup; (2) Seksualitas sebagai Kriminalitas; (3) Seksualitas sebagai Sarana Edukasi; (4) Seksualitas sebagai Ajang Promosi Data rating dan iklan menunjukkan bahwa perolehan rating Fenomena termasuk tertinggi dibandingkan stasiun televisi lain pada jam tayang yang sama. Perolehan iklan termasuk banyak, dengan sebagian besar adalah produk laki-laki. Maka dapat disimpulkan bahwa materi seksualitas Fenomena banyak diminati dan ditonton oleh masyarakat, terutama kaum laki-laki. Telaah semiotik menjelaskan bahwa Fenomena secara tersirat merepresentasikan seksualitas hanya sebagai alat pemenuhan hasrat seksual. Seksualitas nampak mengalami eksploitasi sedemikian rupa melalui tubuh wanita dan konstruksi hubungan seksual.Dengan demikian representasi seksualitas dari materi yang diangkat Fenomena secara tidak langsung telah mengalami reduksi makna atas seksualitas itu sendiri, yakni hanya sebatas pada hubungan seks dan tubuh wanita.Jika dikaitkan dengan konsep komodifikasi dalam kaitannya dengan informasi dalam media, maka materi seksualitas dalam tayangan Fenomena sebagai sebuah informasi, telah mengalami komodifikasi. Hal tersebut bisa dilihat dari beberapa indikasi yang muncul, yang merupakan unsur penanda terjadinya komodifikasi, yaitu : (1)homogenitas informasi, (2)adanya proses pemassalan informasi Proses komodifikasi seksualitas dalam tayangan Fenomena itu sendiri terjadi dengan adanya konstruksi atas realitas seksualitas melalui seperangkat instrumen audiovisual, seperti : teknik visualisasi gambar, pilihan kata dalam naskah, pemilihan setting tempat, penampilan presenter dan model ilustrasi dengan berbagai pose, gesture, gaya pakaian, dan lain-lain. Dari konstruksi realitas seksualitas tersebut kemudian akan memunculkan representasi makna atas seksualitas.Telaah penelitian ini telah menemukan sebuah contoh bagaimana media televisi merepresentasikan seksualitas sebagai obyek hasrat, dan membuktikan terjadinya komodifikasi seksualitas dalam sebuah tayangan, yakni feature Fenomena. Tantangan bagi pelaku jurnalisme adalah bagaimana materi seksualitas tersebut bisa dikemas dengan lebih terhormat serta tanpa harus menjadikan wanita sebagai objek hasrat. Inilah yang kemudian menjadi tantangan pula bagi jurnalisme kontemporer Indonesia, yakni agar terbebas dari praktek-praktek pengelabuan.
Kata Kunci : Televisi; Seksual