Citra Susilo Bambang Yudhoyono dalam Media (Analisis Framing Terhadap Berita Susilo Bambang Yudoyono dalam Pemilihan Presiden Langsung 2004 di Harian Kompas dan Suara Merdeka)
ARRAHMAN, Kholil, Kholil Arrahman
2007 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)Kita mengenal Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Indonesia dengan sebutan SBY. Kebanyakan dari kita atau malah sebagian besar rakyat Indonesia mengenalnya melalui media massa. SBY, sebutan untuk presiden kita adalah sebutan yang kita dapat dari media jauh sebelum ia menjabat presiden. Ada yang mengatakan bahwa sebutan inilah yang kemudian mengantarkannya menjadi presiden. Tentu saja dengan berbagai label yang menyertai sebutan tersebut. SBY, panggilan ini begitu akrab seperti ketika kita memanggil teman kita. Secara personal kita tidak mengenalnya, namun dengan sebutan tersebut kita seolah-olah dekat dengan sosok tersebut dan menjadi bagian dari cerita tentang SBY. Pemilu Presiden 2004 yang telah berlangsung seolah telah memberikan kekuatan kepada rakyat Indonesia untuk ikut menentukan secara langsung pemimpinnya. Namun kekuatan ini belum menjamin kebebasan sepenuhnya dari intervensi pihak lain. Dalam hal ini adalah media. media telah memberikan pengaruh yang luar biasa melalui citra yang dihasilkan. Media secara tidak langsung menanamkan sebuah kondisi bagi terpilihnya seorang kandidat presiden menjadi presiden. Pilpres 2004 memberi bukti kepada kita tentang bagaimana sosok SBY yang hanya didukung oleh partai kecil yang mendapat suara 8% bisa didukung oleh mayoritas pemilih menjadi presiden. Sosok SBY telah menjadi sebuah fenomena yang luar biasa dalam era pemilihan langsung. Media telah menampilkan sosok seseorang yang belum tentu luar biasa menjadi sosok yang kita harapkan. Rekonstruksi terhadap suatu peristiwa yang dilakukan oleh media telah membentuk penafsiran kita atas realitas. Kita menafsirkan suatu realitas melalui media dan sering mengikuti apa kata media. disinilah pengaruh media yang sangat luar biasa. Dengan kekuatan seperti inilah kemudian media menjadi medan pertempuran citra. Para pemilih menangkap Citra dan personalitas kandidat melalui media massa. maka dalam dunia politik dikenal sebuah ungkapan politics is about image and image is reality. Citra akan menjadi faktor penentu dari pada kenyataan itu sendiri. Tulisan ini akan menguraikan bagaimana sosok SBY yang beberapa tahun yang lalu hanya sosok yang dikenal secara terbatas tiba-tiba menjadi sosok yang sangat fenomenal hingga meraih kursi RI I. analisa akan dilakukan dari media yang memuat berita tentang SBY. Bagaimana sosok SBY digambarkan oleh media. dalam hal ini Kompas dan Suara Merdeka menjadi sampel penelitian ini. Penelitian ini menggunakan analisis framing. Framing didefinisikan sebagai proses membuat suatu pesan lebih menonjol, menempatkan informasi lebih daripada yang lain sehingga khalayak lebih tertuju pada pesan tersebut. Ada beberapa model analisis framing, ada banyak istilah dan definisi, namun dari berbagai model tersebut ada kesamaan. Analisis framing secara umum membahas mengenai bagaimana media membentuk konstruksi atas realitas, menyajikannya dan menampilkannya kepada khalayak.
Kata Kunci : Citra SBY; Media; Pemilu