Menjadi Tamu di Rumah Sendiri (Memahami Pergulatan Identitas Betawi Melalui Kacamata Historis Seorang Putra Betawi)
PUTRA, Widhi Aditia, Widhi Aditia Putra
2006 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)Sebagai sebuah pengantar perlu dijelaskan di bagian awal ini bahwa pada dasarnya penelitian yang dilakukan tidak bertujuan untuk menemukan sebuah jawaban yang spesifik dan menyakinkan serta untuk kemudian dipatenkan sebagai sebuah hasil akhir atas pertanyaan yang ada. Namun, yang pasti penelitian ini berusaha memberikan informasi yang lebih mendalam terkait dengan tema keterpinggiran masyarakat Betawi di Kota Jakarta. Selain itu, fokus utamanya pun juga akan ditekankan pada bagian metodologi penelitian yang sangat bergaya antropologis dengan mengutamakan metode biografi sebagai hal utama yang akan menyuguhkan penokohan dari seorang putra Betawi sehingga tidak bisa dihindari bahwa pada proses selanjutnya akan muncul beranekaragam pemaknaan yang cenderung Betawi-sentris yang mau tidak mau akan dan harus dimunculkan guna mendukung penelitian ini sendiri. Apakah anda pernah menonton sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” (SDAS) yang pernah menarik begitu banyak mata untuk menyaksikannya di salah satu televisi swasta Indonesia? Cobalah perhatikan dialog berikut ini yang diucapkan oleh tokoh Babe(h) alias (alm) Benyamin .S kepada anaknya Si Doel yang diperankan oleh Rano Karno “Doel, asal elo tau aja yah disini nih dulu sebelon ada lapangan bola kaya sekarang ada kuburan nenek moyang elo”. Sepenggal dialog ini sendiri diambil pada suatu adegan ketika dalam sebuah kesempatan mereka sekeluarga hendak melakukan ziarah ke makam keluarga besarnya dan yang terjadi justru Keluarga Sabeni ini mendatangi lapangan sepakbola Gelora Bung Karno yang terletak di kawasan olahraga Senayan dan melakukan acara ziarahnya di tengah-tengah lapangan sepakbola yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia. Apa maksudnya? Sebenarnya sekelumit kisah di atas hanya mencoba memberikan gambaran tentang ide dasar yang hendak dibahas disini, yaitu tentang masyarakat Betawi dan keterpinggirannya di rumahnya sendiri, yakni Kota Jakarta. Masyarakat Betawi yang diyakini mampu merepresentasikan sebuah identitas lokal dari Kota Jakarta, pada konteks kekiniannya ternyata mengalami suatu posisi keterpinggiran di dalam rumahnya sendiri. Tidak bisa dipungkiri realita ini muncul sebagai suatu konsekuensi logis atas penglabelan Jakarta sebagai Ibukota Negara. Artinya, ada sebuah hubungan yang terkait antara posisi keterpinggiran masyarakat Betawi dengan kondisi sosial politik ekonomi yang dimiliki oleh Jakarta dan hubungan inilah yang menjadi kata kunci untuk menjelaskan realita tersebut. Politik identitas sendiri yang bernafaskan perbedaan muncul dengan semangat baru untuk bisa dijadikan suatu cara pandang di dalam memaknai relasi posisi keterpinggiran masyarakat Betawi dengan kondisi Kota Jakarta, pemaknaan hubungan tersebut coba dikerangkai melalui kacamata multikuluralisme yang di satu sisi akan melahirkan suatu konsep bahwa perbedaan adalah kekuatan tapi di satu yang lain justru memunculkan benih-benih konflik dan berujung dalam perpecahan. Maka kemudian, yang menarik adalah pada saat dimana pergulatan identitas ini menemukan jawaban atas pencarian jati dirinya, layaknya seorang remaja puber yang sedang mencoba mencari jawaban atas pertanyaan tentang siapa sebenarnya dirinya itu dan ternyata proses pencarian di dalam pergulatannya itulah yang nanti akan melahirkan sebuah jawaban.
Kata Kunci : Politik Identitas; Betawi