Laporkan Masalah

Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan dalam Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Degue (DBD) Di Kecamatan Tegalrego Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

JAMALUDIN, Suwandi, Suwandi Jamaludin

2005 | Skripsi | Manajemen dan Kebijakan Publik (dh. Ilmu Administrasi Negara)

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia masih menjadi polemik, dimana Tahun 1996 terjadi puncak DBD dengan Incidence Rate (IR) 45.548 orang dengan Case Fatality Rate (CFR) 1.230 orang (2,7 %). Di Kota Yogyakarta Tahun 2004 tercatat IR 686 orang dan CFR 12 orang (1,8 %) dan di Kecamatan Tegalrejo IR 69 orang dan CFR 1 orang (1,5 %). Upaya penanggulangan oleh pemerintah belum maksimal karena keterbatasan dana dan tenaga dalam melakukan pengawasan. Untuk itu, diperlukan keterlibatan masyarakat. Artinya, masyarakat diberdayakan dan difasilitasi agar terjadi pengayaan pengetahuan dan sikap positif untuk proaktif dalam penanggulangan DBD. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan proses pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan dan kerja sama dalam penanggulangan penyakit DBD. Pemberdayaan, oleh para pakar didefinisikan sebagai suatu proses pemberian kemampuan dan atau proses menstimulasi dengan cara mendorong dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki kepada masyarakat agar individu mempunyai kemampuan/keberdayaan dalam menentukan hidupnya. Konsep pemberdayaan penting untuk dikaji, karena outputnya menjadikan individu mampu mengatasi permasalahan yang terjadi dilingkungannya khususnya dibidang kesehatan. Pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan merupakan suatu proses pemberian daya/kemampuan kepada individu, kelompok atau masyarakat sehingga terjadi pembentukan kesadaran, sikap positif dan kemampuan intelektual untuk melakukan langkah-langkah positif dibidang kesehatan khususnya dalam penanggulangan penyakit DBD. Penelitian ini menggunakan metode wawancara dan dokumentasi serta pendekatan analisis deskriptif. Informannya adalah 16 orang dari Pihak Yang Diberdayakan dan 7 orang dari Pihak Pemberdaya. Pihak Yang Diberdayakan adalah Masyarakat dan Jumantik yang representatif merupakan juru kunci dan dianggap mengetahui informasi sedangkan Pihak Pemberdaya adalah fasilitator/pelaku pemberdaya dari instasi terkait. Dari penganalisaan data diperoleh bahwa tahap pembentukan kesadaran individu terjadi karena keikutsertaannya dalam penyuluhan/pertemuan yang dilakukan oleh pihak pemberdaya sehingga membuka dan menggugah kesadarannya. Adanya kesadaran yang tinggi mengantarkannya pada tahap transformasi pengetahuan dimana terjadi pembelajaran dan penguasaan program kesehatan yang menjadi kebutuhan dan tuntutannya sehingga melahirkan refleksi positif yaitu berpartisipasi dalam program kesehatan dilingkungannya. Tahap peningkatan kemampuan intelektual terjadi karena akumulasi dari tahap sebelumnya, dimana terjadi pengayaan pengetahuan/kemampuan untuk melakukan inisiatif dan inovasi bidang kesehatan dalam penanggulangan DBD. Tahapan yang berjalan tersebut merupakan hasil kerja sama yang baik yang dilakukan oleh pihak pemberdaya untuk menciptakan masyarakat yang memiliki kemampuan dibidang kesehatan. Dalam konteks penelitian ini secara umum dapat disimpulkan, bahwa proses pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan berjalan dengan baik. Untuk mempertahankan dan kesinambungan pemberdayaan itu sendiri, perlu dilakukan pembinaan/penyuluhan, pelatihan/penyegaran, dan evaluasi secara berkala serta kerja sama yang baik oleh instansi terkait untuk optimalisasi program bidang kesehatan.

Kata Kunci : Kesehatan Masyarakat


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.