Persepsi Masyarakat Mengenao Kampung Sosrowijayan (Studi Kasus Mengenai Tanggapan Remaja Putri Kampung Sosrowujayan Terhadap Persepsi Masyarakat Luar Kampung)
DAMAYANTI, Retno, Retno Damayanti
2005 | Skripsi | SosiologiMendengar kampung Sosrowijayan, tentu identik dengan berbagai macam pandangan sosial. Masyarakat luas cenderung menilai bahwa kampung Sosrowijayan merupakan kawasan turisme hingga kawasan prostitusi. Dari kenyataan tersebut, muncul beberapa persepsi dari tokoh masyarakat Sosrowijayan dan kalangan masyarakat luar Sosrowijayan. Persepsi tersebut berupa persepsi positif dan persepsi negatif. Persepsi positif ditandai dengan penilaian Sosrowijayan adalah kampung pariwisata dan persepsi negatif ditandai dengan penilaian bahwa Sosrowijayan adalah kampung prostitusi. Dari persepsi negatif tersebut kemudian muncul berbagai tanggapan dari remaja putri kampung Sosrowijayan. Pendekatan teori dalam penelitian ini menggunakan teori tindakan sosial, kognitif, dan solidaritas sosial. Dimana ketiga teori tersebut dimaksudkan untuk menganalisa beragam persepsi tokoh masyarakat Sosrowijayan dan masyarakat luar kampung Sosrowijayan, selain itu untuk menganalisa beberapa tanggapan dan tindakan yang dilakukan remaja putri dan masyarakat Sosrowijayan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus (case study). Subyek penelitian ini adalah tokoh masyarakat Sosrowijayan, masyarakat luar Sosrowijayan (Sosrodipuran dan Notoyudan), dan remaja putri Sosrowijayan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, pustaka, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis sepanjang melakukan penelitian dengan menelaah seluruh data yang terkumpul kemudian dilakukan penyajian data dan akhirnya dapat ditarik kesimpulan sebagai jawaban atas pertanyaan penelitian. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pertama, pada kenyataannya tindak prostitusi yang selama ini masih berjalan berada dan terfokus di sebelah barat atau wilayah Sosrowijayan Kulon, dan justru wilayah Sosrowijayan Wetan (timur) berkembang menjadi kampung wisatawan. Kedua, persepsi masyarakat luar masih melihat Sosrowijayan sebagai kampung Sarkem atau kampung lokalisasi, akan tetapi di sisi lain kegiatan pariwisata yang ada di Sosrowijayan memberikan kesejahteraan perekonomian bagi masyarakatnya. Ketiga, tanggapan remaja putri Sosrowijayan atas penilaian negatif masyarakat luar menunjuk pada bentuk solidaritas organik, karena termasuk masyarakat perkotaan sehingga remaja putri Sosrowijayan masih bersifat individu (apathis), tidak ada kesadaran kolektif berupa tindakan konkret dalam menepis permasalahan ini. Dari sikap mereka yang cenderung individu muncul tindakan rasionalitas yang berorientasi nilai yaitu berupa tindakan religius (mis: ikut pengajian atau aktif dalam kegiatan kerohanian di gereja) selain itu mereka juga ikut/aktif dalam kegitan karang taruna. Tindakan tersebut tidak semata-mata bertujuan untuk menepis penilaian negatif dari masyarakat luar, namun setidaknya kegiatan tersebut dapat “memprotect” diri mereka terhadap “serangan” dari luar. Dengan demikian, remaja putri yang tinggal di Sosrowijayan berharap tidak menjadi obyek cemoohan lagi akan tetapi mereka berharap dirinya dapat lebih dihargai oleh masyarakat umum.
Kata Kunci : Fenomena Sosial