Perempuan Suporter Sepak Bola (Studi Tentang Motivasi dan Kesadaran Gender Pada Suporter Perempuan Slemanona)
ISTANTO, Feri, Feri Istanto
2005 | Skripsi | SosiologiSepakbola dianggap secara luas sebagai olahraga yang identik dengan laki-laki. Sebagai olahraga yang banyak terjadi kontak fisik, sepakbola merupakan olahraga yang dipakai oleh laki-laki menunjukkan kehormatan, dengan berakar pada nilai-nilai maskulin (kejantanan) dan sifat patriarki (Williams:2002). Tak heran, posisi laki-laki dalam sepakbola sangat dominan. Sementara posisi perempuan di sepakbola masih tersisihkan baik sebagai pemain maupun sebagai suporter. Oleh karena itu kehadiran suporter perempuan merupakan fenomena menarik, mengingat mereka harus berhadapan dengan konstruksi sosial yang menganggap sepakbola adalah olahraga laki-laki. Keberadaan suporter perempuan ternyata juga memunculkan stereotip yang menganggap kehadiran mereka hanya karena keinginan untuk melihat laki-laki idola, atau sekedar menemani pasangannya menonton sepakbola. Stereotip yang meremehkan keberadaan suporter perempuan ini mengecilkan peran perempuan sebagai suporter. Stereotip merupakan salah satu bentuk penindasan ideologi dan kultural yang memberikan pencitraan karakteristik yang negatif, dan merugikan bagi perempuan seperti yang dijelaskan oleh Fakih (2003). Pada penelitian ini, motivasi perempuan menjadi suporter sepakbola dilihat untuk membuktikan kebenaran stereotip yang melekat pada seorang suporter perempuan. Berdasarkan motivasi yang dimiliki oleh suporter perempuan dapat dibuktikan apakah keberadaan suporter perempuan mematahkan atau justru malah meneguhkan stereotip tersebut. Penolakan terhadap stereotip merupakan salah satu ciri perempuan yang sadar gender. Meski demikian, tidak semua perempuan memiliki kesadaran gender (Abdul Haris dalam Abdullah, 1997:190). Bahkan perempuan terkadang melihat kondisi dan posisi yang mereka alami sebagai sesuatu yang normal dan kodrati. Berdasarkan data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa suporter perempuan merasa sama kedudukannya dengan suporter laki-laki. Terdapat keinginan yang kuat dari suporter perempuan agar kehadiran mereka tidak dibedakan dengan suporter laki-laki. Keinginan tersebut dapat mematahkan anggapan yang meremehkan keberadaan suporter perempuan.
Kata Kunci : Gender, Perempuan