Laporkan Masalah

Penilaian Efektivitas Komunikasi Instruksional Guru dan Prestasi Belajar Siswa (Studi Korelasi Mengenai Penilaian Siswa Tentang Efektivitas Komunikasi Instruksional Guru dan Prestasi Belajar Siswa di.

PURNAMASARI, Tania, Tania Purnamasari

2005 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

Gereja Bebas merupakan salah satu denominasi Kristen Protestan yang berkembang di Sumba Timur, sebagai hasil dari penyebaran zending Belanda. Sejarah Gereja Bebas di Sumba Timur terbagi dalam tiga periode kepemimpinan. Dalam perkembangannya, Gereja Bebas menentang keputusan-keputusan Zending dan memisahkan diri. Di sisi lain, Gereja Bebas menentang pelaksanaan belis dan upacara kematian dalam kehidupan masyarakat Sumba Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah Gereja Bebas di Sumba Timur dan dinamika konflik Gereja Bebas berkaitan dengan adat istiadat, terkait belis dan upacara kematian di Sumba Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus secara deskriptif mengenai sejarah Gereja Bebas di Sumba Timur dan dinamika konflik Gereja Bebas di Sumba Timur terkait belis dan upacara kematian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi terlibat, serta wawancara terbuka dan mendalam. Informan kunci terdiri dari Akturius (penulis gereja), para pendeta Gereja Bebas dan jemaat yang melaksanakan belis dan upacara kematian, sedangkan informan pendukung terdiri dari jemaat Gereja Reformasi dan pendidik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah Gereja Bebas dimulai dari proses awal penolakan Gereja Bebas terhadap keputusan zending, kemudian perbedaan wawasan dalam menjalankan misi zending diantara sesama pendeta zending dan perbedaan pendapat antara Gereja Bebas dan Gereja Reformasi. Pada akhirnya Gereja Bebas memisahkan diri dari zending dan Gereja Reformasi. Gereja Bebas menolak belis dan upacara kematian disebabkan oleh dua faktor, yakni, pertama, berdasarkan nilai Kristiani dalam Injil yang menjadi landasan utama dalam menjalankan segala aturan gerejanya. Kedua, proses belis dan upacara kematian menimbulkan kerugian material bagi masyarakat. Gereja Bebas menentang tiga hal inti, yakni, proses belis, materi belis dan otoritas yang ada tersirat dalam belis. Sedangkan dalam upacara kematian terdapat 7 proses yang tidak diterima oleh Gereja Bebas, diantaranya membawa hewan, memukul tambur dan gong kematian, penguburan orang mati yang sudah bertahun-tahun, menarik batu kubur, mendoakan orang mati, pengucapan syukur sesudah penguburan dan menyiram rampe. Walaupun pertentangan tersebut seringkali muncul, namun tidak berwujud pada kekerasan karena ada tiga alasan, yakni, pertama, Gereja Bebas merupakan kelompok minoritas dengan jumlah jemaat yang tidak membesar. Kedua, Gereja Bebas dan masyarakat yang melaksanakan belis dan upacara kematian adalah sesama pengikut Kristus, dan ketiga, Gereja Bebas tidak bersifat agresif dalam menyebarkan ajarannya kepada massa. Kata kunci: Gereja Bebas, Konflik, Belis, Upacara kematian

Kata Kunci : Komunikasi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.