Dampak Kebijakan Relokasi Pedagang Pasar Shoping bagi Para Pedagang di Pasr Induk Giwangan Yogyakarta
LUTFY, Desy Widya, Desy Widya Lutfy
2005 | Skripsi | Politik dan Pemerintahan (dh. Ilmu Pemerintahan)Dalam perkawinan adat masyarakat etnis Sikka di Kota Kupang menempatkan mas kawin (belis) sebagai hal yang penting karena memiliki makna sebagai simbol penghargaan dan pengakuan kepada harkat dan martabat seorang perempuan. Akan tetapi dalam kenyataan sekarang praktek pembayaran belis sudah tidak dilakukan sebagaimana mestinya sehingga menimbulkan pemahaman baru yang negatif dan masyarakat mulai menyalahkan adat istiadat. Banyak praktek yang mengatasnamakan adat dan menaikan jumlah harta belis dengan tuntutan-tuntutan yang melebihi batas kemampuan seseorang atau kelompok apalagi dikaitkan dengan masalah harga diri dan prestise. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis kualitatif deskriptif pada masyarakat etnis Sikka di Kota Kupang Nusa Tenggara Timur dengan informan sebanyak 15 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mas kawin (belis) dalam tradisi perkawinan masyarakat Sikka pada awal mulanya sebelum masuknya misionaris bangsa Portugis di Sikka hanya dalam bentuk sirih pinang yang dimaknai sebagai simbol atau tanda ikatan cinta kasih dan persatuan antara suami istri serta ikatan persaudaraan antara kedua keluarga. Namun setelah masuknya pengaruh Portugis benda belis yang dulunya berupa sirih pinang digantikan dengan gading gajah yang merupakan makna simbolis kekuasaan dari leluhur masyarakat Sikka. Latar belakang munculnya gading gajah sebagai benda belis karena adanya banyak keluhan dari perempuan-perempuan Sikka yang diperlakukan tidak adil oleh laki-laki. Bagi laki-laki yang memiliki banyak harta bebas menikah lagi dan istrinya diterlantarkan begitu saja serta tidak dinafkahi. Sehingga pada masa kepemimpinan Raja Sikka yang bernama Agnes da Silva pada abad ke 17 mengatur perkawinan adat (belis) tambah ketat dengan tujuan memberikan perlindungan kepada perempuan. Masyarakat Sikka memaknai belis sebagai tanda penghargaan terhadap perempuan dan keluarganya. Benda-benda belis yang dulunya mengandung simbol kekuasaan dan status sosial kini mulai diabaikan dengan menggunakan uang sebagai penggantinya. Dalam perkembangan kehidupan masyarakat Sikka saat ini, belis mengalami pergeseran makna, dimana masyarakat memaknai belis sebagai simbol prestise. Faktor-faktor dominan yang mempengaruhi pergeseran makna belis adalah : simbol prestise, nilai ekonomi dan benda-benda belis. Kata kunci : Pergeseran, Makna, Belis
Kata Kunci : Kebijakan Industri, Relokasi