EZLN Sebagai Kekuatan Couterhegemony Terhadap Globalisasi Neoliberal: Sebuah Analisa Neo-Gramscian
AR.SIGIT, Muhammad, Muhammad Sigit AR.
2005 | Skripsi | Ilmu Hubungan InternasionalDasar pemikiran yang melandasi penelitian ini adalah keberagaman seni yang ada di Jember, baik tradisional maupun kontemporer. Seniman tradisional diidentikkan dengan adanya pakem-pakem dalam memerankan keseniannya, hal ini berbeda dengan Jember Fashion Carnaval (JFC) sebagai seni kontemporer. Konstuksi pengetahuan wacana JFC oleh media massa adalah sebuah ajang peragaan busana ternama di Jember dan terbesar lintas nasional-global. Kesenian lokal di Jember tidak luput dari eksistensi dan peredupan. Di satu sisi, kondisi kesenian tradisional bisa saja mengalami keterhimpitan. Di lain sisi, muncul seni fesyen karnaval kontemporer yang mampu menjadikan Jember sebagai wacana kota karnaval di dunia. Penampilan JFC tidak terlepas dari peran media massa, yang selalu terkini dalam mengabarkan pemberitaan pertunjukkannya dan mengkonstruksi JFC sebagai identitas Jember, sedangkan kesenian tradisional jauh dari kepopuleran media. Bertitik tolak dari fenomena tersebut, peneliti ingin mengetahui bagaimana seniman tradisional memaknai keseniannya, JFC, dan isu marginalisasi keseniannya? Kemudian, strategi apa yang dikembangkan seniman tradisional agar tetap berkesenian? Peneliti nantinya akan membingkai analisanya dengan teori konstruksi sosial dari Peter L. Berger. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif, dengan menggunakan perspektif konstruktivisme, yang menekankan pada realitas sosial sebagai konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu. Adapun lokasi penelitian spesifiknya adalah wilayah-wilayah di dalam lingkup Kabupaten Jember yang merupakan tempat para seniman tradisional berkreasi dengan kesenian pinggirannya. Teknik pengambilan informan adalah bola salju. Kriteria informan adalah para seniman tradisional Jember (Jawa dan Madura) yang masih eksis berkesenian maupun yang mengalami peredupan eksistensi. Data yang dihimpun merupakan data primer dan sekunder, yang dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi pustaka. Selanjutnya, dilakukan analisis data secara kualitatif tentang adanya konstruksi ruang berkesenian dan diskursus JFC oleh para seniman tradisional. Hasil konstruksi seniman tradisional terhadap kondisi kesenian bahwa masih tersedianya kesempatan berkesenian, namun tergantung dari adanya regenerasi dan dukungan dari semua pihak, terutama perhatian Pemkab Jember. Konstruksi seniman tentang JFC adalah bentuk penerimaan dan penolakan. Konstruksi seniman terkait isu termarginalkannya mereka karena JFC, ditegaskan bahwa tidak ada kaitan langsung tentang keberadaan JFC terhadap terpinggirkannya kesenian tradisional. Sejauh ini, mereka yang merasa terpinggirkan karena minimnya bentuk perhatian Pemkab Jember yang dirasa tidak sebanding dengan dana besar yang dianggarkan Pemkab untuk JFC. Seniman melakukan strategi berkesenian di tengah tuntutan globalisasi dan modernisasi. Strategi tersebut merupakan upaya agar seniman tidak termarginalkan karena mereka juga dapat termarginalkan dengan sendirinya. Key words: Konstruksi, Marginal, Kesenian Tradisional, JFC.
Kata Kunci : Globalisasi, Ekonomi