Laporkan Masalah

Strategi Keberhasilan Republik Macedonia dalam Pencegahan Konflik Etnis Pasca Kemerdekaan 1991-2001

NURINDIANI, Rizkie, Rizkie Nurindiani

2004 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Pendidikan seksual bagi remaja menjadi salah satu cara untuk mentransfer segala macam pengetahuan yang berkaitan dengan seksualitas yang sehat fisik, psikis, dan sosial agar remaja mampu mencegah ataupun mengurangi penyalahgunaan seks yang berdampak negatif. Orang tua sebagai sumber informasi pertama bagi seorang anak seharusnya menyampaikan pendidikan seksual sejak dini dan berkesinambungan. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui pemaknaan orang tua terhadap pendidikan seksual bagi remaja perempuan serta bagaimana mereka melaksanakan konsep-konsep tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Studi ini menggunakan teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann serta analisis kuasa Michel Foucault, dengan penyajian hasil dan analisis berbentuk narasi. Informan dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi informan kunci (tokoh masyarakat) sebanyak dua orang, informan utama sebanyak 10 pasang orang tua, dan 10 remaja (anak perempuan dari informan utama) sebagai informan pendukung. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi pemaknaan yang dipengaruhi oleh cadangan pengetahuan (stock of knowledge) yang dimiliki masing-masing informan. Dalam memaknai pendidikan seks, sebagian besar orang tua kelas pekerja trampil masih membatasi pemaknaan tersebut pada sesuatu yang dapat menumbuhkan ketakutan bagi anak remaja bahkan satu orang informan di kelas sosial ini memaknainya sebagai sesuatu yang tabu dan membahayakan. Meskipun para informan kelas sosial ini masih membatasi pemaknaan pendidikan seks pada sesuatu yang diperuntukkan dalam memunculkan ketakutan, tetapi telah ada pergeseran sumber untuk memunculkan ketakutan itu dimana sumber ketakutan lebih pada logika sebab akibat perilaku seksual ataupun pada kacamata religi. Di keluarga kelas menengah bawah, pemaknaan orang tua terhadap pendidikan seksual tidak lagi dibatasi memberi rasa takut tetapi dibatasi pada pemunculan tanggung jawab untuk menjaga kehormatan orang tua. Sedangkan orang tua kelas sosial menengah memaknai pendidikan seksual sebagai sesuatu yang dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab anak remaja untuk menjaga dirinya sendiri. Dalam penerapan, sebagian besar informan kelas pekerja trampil mempunyai kecenderungan kurang memberikan perhatian mereka pada masalah seksual anak-anaknya. Relasi kuasa yang masih kuat bertumpu pada orang tua sebagai pusat memunculkan jarak orang tua dengan anak sehingga perhatian dan kesempatan diskusi masalah seksual dengan anak sulit terbentuk. Di kelas sosial menengah bawah, implementasi pendidikan seksual didasari oleh kuasa pengetahuan yang lebih bersifat produktif dan relasi kuasa yang terjalin lebih menyebar antara orang tua dengan anak sehingga tidak selalu tumpuan kuasa terletak pada orang tua. Pada kelas menengah, relasi kuasa orang tua dengan anak yang tidak lagi bersifat represif memunculkan suasana yang dialogis dalam keluarga. Hal ini mendorong bentuk perhatian dan diskusi masalah seksual yang lebih terbuka dari anak ke orang tua maupun sebaliknya. Kata kunci : pendidikan seksual, remaja perempuan, orang tua, keluarga

Kata Kunci : Konflik


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.