Politik Kerjasama Ekonomi dan Moneter Eropa: Analisis Perundingan Intergovenmental Conference on Economic and Monetary Union 1988-1991
AFRIMADONA,
2003 | Skripsi | Ilmu Hubungan InternasionalProses perubahan dapat dialami oleh semua orang, baik pada tataran individu (mikro), kelompok-kelompok dalam masyarakat (meso) maupun masyarakat sebagai sebuah kesatuan kelompok yang luas (makro). Adapun proses perubahan tersebut dapat terjadi secara alamiah maupun secara terencana. Akan halnya proses perubahan yang dialami oleh sebahagian masyarakat di wilayah kabupaten Poso, dapat dikategorikan sebagai sebuah perubahan yang tidak direncanakan, karena terjadi akibat konflik sosial berkepanjangan mulai pada tahun 1998 dan puncaknya terjadi pada tahun 2000. Dimana terjadi banyak kekerasan fisik dan mental, terjadi perampasan hak-hak sosial ekonomi warga, masyarakat hidup dalam ketakutan sehingga berdampak pada terhambat dan berhentinya aktifitas sosial ekonomi.Situasi bertambah buruk karena tidak adanya jaminan pemerintah bagi keselamatan jiwa, sehingga menyebabkan mereka terpaksa eksodus ke wilayah yang dianggap lebih aman. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktifitas keseharian pengungsi dalam memenuhi kebutuhan dasar dan juga perubahan posisi mereka dalam stratifikasi masyarakat baru di Desa Wuasa.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif untuk mendalami, memahami serta menjelaskan fenomena yang terjadi. Data yang gunakan berasal dari pengungsi maupun masyarakat Desa Wuasa sebagai sumber data primer dan juga stake holders baik pemerintah, LSM dan tokoh-tokoh masyarakat. Selanjutnya menggunakan dokumen-dokumen sebagai sumber data sekunder.Data-data tersebut diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi yang berkaitan dan menunjang tema penelitian ini. Hidup ditempat pengungsian berbeda dengan kondisi sebelumnya, dengan keadaan serba kekurangan pengungsi harus memulai aktifitas hidupnya dari awal sehingga pola hidup merekapun ikut berubah dalam berupaya memenuhi kebutuhan dasar. Hal ini menjadi semakin tidak mudah karena kondisi sosial ekonomi pengungsi berada pada level mobilitas vertikal menurun (social-sinking) baik dalam tataran ekonomi maupun tataran sosial. Selanjutnya terdapat perbedaan nilai, norma, budaya, cara pandang maupun perbedaan kepentingan antara pengungsi dan penduduk Desa Wuasa, sebagai realita yang membutuhkan penyesuaian dan interaksi, namun beberapa kesamaan seperti kesamaan religi/agama yang dianut pengungsi dan penduduk lokal dapat memperkecil perbedaan (cross cutting), sehingga saat ini yang terjadi bahwa pengungsi dapat kembali hidup layak dan berada dalam semua strata kehidupan sosial ekonomi masyarakat Desa Wuasa. Dalam proses penataan kehidupan sosial ekonomi pengungsi untuk menjadi layak dan normal, ada peran stake holders baik itu pemerintah, tokoh agama maupun tokoh masyarakat walaupun belum maksimal bahkan cenderung tidak lagi sesuai dengan kebutuhan. Kondisi perubahan kehidupan sosial ekonomi pengungsi tersebut diatas, dijelaskan lebih mendalam dalam sebuah penelitian yang telah penulis lakukan dan dijabarkan dalam penulisan tesis ini. Kata kunci : Pengungsi, perubahan kehidupan sosial ekonomi, masyarakat.
Kata Kunci : Ekonomi Internasional