Eskalasi Konflik Di Tajikistan Paska Kemerdekaan 1991
RR.EMILIA Yustiningrumm,
2002 | Skripsi | Ilmu Hubungan InternasionalIntegrasi sosial menjadi sangat problematik ketika “ruang-ruang perjumpaan” dalam relasi sosial antar etnis yang berbeda dalam banyak hal semakin menjauh dari idealitas. Melting pot yang mengandaikan proses integrasi sosial secara alamiah tanpa intervensi Negara ternyata sulit membendung “disintegrasi sosial” karena penegasan identitas etnis yang berlangsung secara intens dari waktu ke waktu. Dengan metode etnografis, riset ini menunjukan bahwa etnis Bajo sulit berintegrasi secara alamiah dengan etnis pribumi maupun sangat rentan terhadap kebijakan negara terkait dengan identitas mereka. Seluruh bangunan identitas etnis ini selalu terkait dengan laut. Daratan yang dihuni oleh etnis pribumi dilihat sebagai “dunia lain”. Koeksistensi terjadi meski dalam “bayang-bayang” disintegrasi. Bagi etnis ini, agama adalah identitas yang tidak bisa dinegosiasikan. Problema integrasi berimplikasi pada terjadinya Amalgamasi justru di dua kutub yang berbeda, etnis pribumi di satu sisi dan etnis Bajo di sisi yang lain. Sementara inkorporasi terjadi dalam relasi kerja sama antara juragan (etnis Bajo) dengan Anak Buah Kapal (etnis pribumi), di mana pola hidup etnis Bajo di laut memengaruhi etnis pribumi yang petani. Divisi nampak dalam keterbelahan etnis berdasarkan kepentingan yang saling bertolak belakang terutama dalam proyek pengembangan dermaga Wuring. Ploriferasi terjadi dalam kasus perkawinan campuran, di mana salah satu dari pasangan yang berbeda agama dan etnis keluar dari akar identitasnya, dan membentuk keluarga baru. Terjadi keterhimpitan dalam relasi antar etnis, agama dan kelas sosial. Interdependensi secara ekonomi merupakan “ruang perjumpaan” yang mampu meminimalisir potensi disintegrasi antar etnis (agama). Namun demikian, kesenjangan yang cukup besar dalam distribusi recources dapat menjadi problem yang serius, bahkan dapat menjadi faktor pemicu terjadinya disintegrasi sosial. Negara gagal mengintegrasikan etnis Bajo dengan etnis pribumi di daratan karena kuatnya penegasan identitas etnis Bajo (yang Islam, pelaut dan pendatang). Negara juga nampak “gamang” dalam mengelola multikulturalisme. Kebijakan-kebijakan integrasionis tidak jarang bertentangan dengan karakteristik utama identitas etnis. Implikasinya, relasi antara Negara dengan etnis minoritas menjadi “renggang”. Dan pada titik tertentu, Non Governmental Organization (NGO) mengisi “ruang kosong” antara masyarakat dan Negara tersebut. Kata kunci: integrasi sosial, identitas etnis, interdependensi, Negara.
Kata Kunci : Eskalasi Konflik