Laporkan Masalah

New Military Professionalism; Studi Kasus TNI Manunggal Membangun Desa

MAMESAH, Febrian Irawati, Febrian Irawati Mamesah

2001 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Dalam era Pasca Perang Dunia II para pakar ekonomi dan pelaku ekonomi melakukan berbagai upaya untuk membangun sistem pasar bebas yang melampaui batas-batas negara. Upaya ini sangat penting untuk mencapai tujuan, yaitu efisiensi penggunaan faktor produksi (sumber daya) yang terbatas, dan sekaligus untuk meraih keuntungan semaksimal mungkin. Untuk mencapai tujuan tersebut disepakati perjanjian internasional yang dituangkan dalam General Agreement on Tariff and Trade (GATT) yang kemudian berkembang menjadi WTO. Dalam rangka menghadapi pasar bebas berbagai negara berupaya untuk mengadakan kerjasama secara regional. Tidak ketinggalan AS, Kanada dan Meksiko membentuk North American Free Trade Area atau NAFTA dan mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1994. Tujuan penulisan tesis ini adalah untuk mengungkap alasan ekonomi politik pembentukan NAFTA, mengapa NAFTA menjadi kawasan ekonomi yang tertutup dan diskriminatif, dan sejauh mana implikasinya terhadap industri dan perdagangan TPT Indonesia. Penelitian mengenai NAFTA dapat mengungkap alasan ekonomi politik dalam konteks upaya untuk memperbaiki posisi tawar dan perjuangan kepentingan ekonomi negara-negara anggotanya dalam percaturan ekonomi dunia. Di samping itu, diharapkan bahwa penelitian ini secara praktis bisa memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerintah dan dunia usaha di bidang industri dan perdagangan TPT Indonesia dalam rangka menghadapi blok-blok perdagangan di era pasar bebas. Untuk memeroleh hasil penelitian yang ilmiah dan valid digunakan metode deskriptis analitis, yaitu melalui pengumpulan data, penseleksian data dan pengolahan data yang terkait dengan sejarah pembentukan NAFTA, peraturan dan kebijakan yang diambil oleh NAFTA, dan implikasi yang ditimbulkan yang dihadapi oleh industri TPT Indonesia. Selain itu juga digunakan metode kualitatif melalui wawancara pendalaman dengan para pengambil kebijakan, para pelaku industri, dan pengamatan di lapangan. Penelitian ini bersifat kepustakaan dengan menggunakan informasi dari buku, majalah, internet, jurnal dan data dari instansi yang berkompeten, seperti BPS, API, dan Kementerian Perdagangan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa NAFTA dibentuk dengan alasan untuk menyelesaikan krisis regional, memperkuat bargaining position, dan meningkatkan daya saing ekonomi. NAFTA yang pada awalnya diharapkan menjadi regionalisme untuk menuju liberalisasi pasar, namun dalam prakteknya telah menjadi sebuah kawasan perdagangan tertutup yang diskriminatif dan restriktif. Tentu saja, hal ini bertentangan dengan prinsip-prinsip liberalisasi pasar yang dianut oleh WTO, seperti most favored nations principle atau non-discrimination principle, reciprocity principle, transparancy principle, national treatment principle. Bagi industri dan perdagangan TPT Indonesia, NAFTA merupakan pasar utama untuk ekspor karena NAFTA menyerap rata-rata 43% dari total ekspor TPT yang pada tahun 2008 sebesar US $ 4.241.371.515 dari total ekspor yang mencapai US$ 9,4 milliar. Dengan demikian, ketentuan dan kebijakan yang diskriminatif dan restriktif yang diterapkan oleh NAFTA mempunyai pengaruh yang sangat merugikan terhadap industri dan perdagangan TTPT Indonesia. Hal ini bisa dibuktikan oleh meningkatnya relokasi industri, adanya capital flight ke luar negeri, bangkrutnya perusahaan-perusahaan di bidang TPT, meningkatnya PHK karyawan di sektor TPT, dan menurunnya daya saing TPT Indonesia. Dalam rangka menghadapi kebijakan NAFTA yang diskriminatif dan restriktif sehingga merugikan kepentingan TPT Indonesia, sudah saatnya pemerintah mengambil peran penting untuk menyelamatkan industri dan perdagangan TPT dengan melakukan berbagai langkah-langkah terobosan. Kata Kunci: NAFTA – Implikasi NAFTA – Industri dan Perdagangan TPT Indonesia.

Kata Kunci : Militer


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.