Laporkan Masalah

Dinamika Penyelesaian Konflik Aceh Oleh Pemerintah Republik Indonesia (1998-2001)

HADI Rahman,

2002 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Studi ini menekankan pada politik etnis yakni bagaimana instrumentasi (komodifikasi) etnis di di arena elektoral khususnya dalam pemilukada Kota Ternate tahun 2010. Dengan kata lain etnis atau etnisitas menjadi “jualan” atau dikapitalisasi oleh para elite lokal dalam upaya memperebutkan sumber-sumber kekuasaan. Etnis menjadi instrumentasi penting dalam arena kontestasi politik lokal tersebut. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analytic descriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan merujuk pada data primer dan data sekunder. Sementara data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam (indepth interview) kepada mereka (informan) yang mempunyai kompetensi atau berkaitan erat dengan masalah yang diteliti, serta dokumentasi. Secara teoritis, etnis di sini hanya menjadi instrumentasi oleh para elite lokal atau dalam konsepsi Marx etnis hanya menjadi komoditas (dikomodifikasi). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa instrumentasi (komodifikasi) etnis di arena politik seperti dalam pemilukada Kota Ternate Tahun 2010 oleh elite lokal terlihat dari dimulainya pencalonan atau kandidasi calon Walikota dan calon Wakil Walikota Ternate yang beririsan etnis oleh partai politik dan calon independen. Irisan atau kombinasi etnis secara jelas nampak pada pasangan para kandidat: Ikbal-Vaya (Sanana-Makian), Sidik-Saiful (Ternate- Makian), Burhan-Arifin (Tidore-Ternate), dan Wahda-Hidayat (Makian-Ternate). Pemaketan berdasar etnis tidak hanya dilakukan oleh partai tetapi juga “ikut dijodohkan“ oleh kekuatan di luar partai, seperti kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore serta dua penguasa formal yakni Walikota Ternate dan Gubernur Maluku Utara. Temuan lain menunjukkan instrumentasi etnis juga terlihat dari bagaimana pola pendekatan elite (para kandidat) kepada kelompok etnis. Hal ini tercermin dari beberapa kegiatan bertema sosial seperti barifola (bedah rumah), Legu Gam (pesta rakyat), dan investasi di bidang pendidikan untuk etnis tertentu. Para kandidat pun rame-rame memperebutkan atau membentuk serta memimpin langsung organisasi etnis untuk memperoleh dukungan politik dari elemen etnis. Instrumentasi (komodifikasi) etnis yang lain terlihat dari bagaimana elite memproduksi isu atau wacana etnis sebagai upaya memudahkan mobilisasi massa etnis. Atas dasar temuan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa etnis atau etnisitas menjadi instrumentasi dan komoditas oleh para elite lokal di arena politik elektoral (pemilukada). Etnis dikomodifikasi sedemikian rupa sebagaimana yang dijelaskan dalam temuan di atas untuk memenangkan kontestasi politik lokal demi memperebutkan sumber-sumber kekuasaan. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi keilmuan di bidang ilmu politik dan secara praksis memberikan pelajaran penting bagaimana elite lokal memperlakukan kelompok etnis/ etnisitas dan tidak hanya sekedar menjadi komoditas yang diperjualbelikan di arena politik. Kata Kunci: Elite Lokal, Instrumentasi (Komodifikasi) Etnis, Pemilukada

Kata Kunci : Dinamika Penyelesaian Konflik


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.