Kelemahan Oposisi dalam Politik Malaysia (1982-2000)
WIBOWO, Yohanes Sulistya, Yohanes Sulistya Wibowo
2001 | Skripsi | Ilmu Hubungan InternasionalDalam kehidupan masyarakat orang Korupun, berperang telah berakar dalam sistem religinya dan merupakan kegiatan yang suci yang diwajibkan oleh nenek moyang mereka. Apabila tidak perang, maka segala hal seperti bercocok tanam, berburu, berdagang, dan sebagainya, akan mengalami kemunduran. Perang suku merupakan pusat dari religi dalam kebudayaan Korupun, tidak dapat dipisahkan, karena yang sudah berakar dan berurat dalam kehidupan masyarakatnya. Adalah suatu kebingungan kini, tatkala agama dan pemerintah datang membuka keisolasian daerah ini, untuk tujuan dan maksud baik, dengan serta merata melarang nilai religi (keagamaan) mereka sebagai salah. Seorang responden lain mengatakan kepada penulis: "Kalau kami tidak boleh perang, kami ini siapa, jika yang kami hayati sebagai salah? Kita dituntut kehati-hatian menghadapi suku lain. Mungkin lebih bijaksana pihak luar secara bijaksana mau mengerti dan melakukan transformasi social budaya berdasarkan nilai-nilai lokal dengan kehati-hatian kehidupan profan sehari-hari juga terjalin dengan perang. Wibawa, berikut berbagai hak seperti memiliki banyak isteri, kebun-kebun dan babi dalam masyarakat ini diperoleh dengan keberanian dalam pertempuran. Orang yang berhasil semua itu yang paling baik dapat diterjemahkan dengan orang terpandang, atau diperhitungkan. Orang berhasil itu lawan dari, orang tidak penting, orang tidak berharga. Upaya untuk mempertahankan wilayah Korupun merupakan tanggung pemimpin honai dan warganya. Selama ini kita mungkin memandang bahwa penanggung jawab upaya mempertahankan kedaulatan Korupun adalah rakyat. Hal tersebut tidak tepat. Rakyat bertanggung jawab untuk membantu pemimpin honai dalam mempertahankan kedaulatan wilayah Korupun. Kerja sama dan sinergi antar pimpinan suku dengan masyarakat harus diperkuat. Namun yang paling bertanggungjawab dalam mempertahankan wilayah teritorial adalah pemimpin honai. Peranan lain pemimpin Korupun adalah memperluas wilayah kekuasaan atau dikenal dengan ekspansi wilayah kekuasaan teritorialnya. Ekspansi wilayah dilakukan oleh pemimpin honai dalam hal jika terjadi perang antara suku dan pihak lawan dinyatakan sebagai pihak yang kalah dalam peperangan. Kebijakan ini diambil jika penyebab perang adalah sengketa wilayah kebun atau hutan. Maka bagi pihak yang dinyatakan menang dalam perang mengenai kebun atau hutan, berhak untuk melakukan ekspansi wilayah kekuasaan teritorialnya. Penetapan perluasan wilayah ini dilakukan dengan upacara adat dengan memotong hewan babi. Sementara pihak yang dinyatakan sebagai kalah dalam peperangan ini tidak boleh melalukan tindakan merubah keputusan yang diambil sesuai dengan keputusan adat tadi. Kontrol pemimpin honai dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup merupakan hal yang penting, yang menyebabkan hak-hak masyarakat untuk menggunakan dan menikmatinya menjadi terbuka dan mengurangi konflik, antara suku. Sistem hukum adat yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam harus memiliki perspektif keberlanjutan. Selain itu, peran serta aktif pemimpin honai dalam memanfaatkan akses dan mengendalikan kontrol terhadap penggunaan sumber daya alam lebih optimal karena dapat melindungi hak-hak publik dan hakhak masyarakat adat. Peranan lain dari pemimpin honai adalah memperhatikan agar kerusakan sumber daya alam tidak makin parah, termasuk penjarahan terhadap hutan, penguasaan oleh suku-suku lain. Meningkatnya penebangan liar oleh penduduk dikendalikan untuk mengurangi kadar kerusakan lingkungan, penggunaan bahan bakar yang tidak aman bagi lingkungan, kegiatan pertanian, dan pengelolaan hutan yang mengabaikan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Konflik antara suku di Papua umumnya dan Korupun khususnya bukan hal baru. Hampir setiap periode tertentu terjadi konflik. Penyebab konflik bisa terjadi karena masalah batas-batas kebun, batas-batas wilayah teritorial kekuasaan honai, juga masalah perempuan. Maka peranan pemimpin honai di Korupun begitu luas tidak saja terbatas pada masalah bagaimana menyejahterakan rakyatnya, akan tetapi menyangkut banyak aspek. Oleh karena itu pemimpin honai bertugas memelihara hidup hukum didalam persekutuan, menjaga, supaya hukum itu dapat berjalan dengan selayaknya. Aktivitas pemimpin honai sehari – hari meliputi seluruh lapangan masyarakat. Tidak ada satu lapangan pergaulan hidup di dalam badan persekutuan yang tertutup bagi pemimpin honai untuk ikut campur bilamana diperlukan untuk memelihara ketentraman, perdamaian, keseimbangan lahir batin untuk masyarakat. Kata Kunci: Mengelola konflik, membagi kekayaan sesuai dengan jenjang klen, ekspansi wilayah, mempertahankan Wilayah
Kata Kunci : Politik, Malaysia